Tentang proses yang mengalami perubahan fantastis. Membuat orang dengan sekejap mata dapat terpana. Sebab, betapa canggihnya, bahasa kekinian yang mewakili tentang kecepatan dan kehebatan.
Rencana Stimulasi: Mengenal dalam dan luar rumah Aksi: Karena jarang keluar rumah, Nadhira tetap perlu dibiasakan berjemur dan melihat suasana di luar rumah meski hanya di depan teras aja. Anaknya juga lumayan bosenan, jadi kalau pas waktunya bepergian meski hanya ke rumah semolo, dia tetap excited buat lihat pemandangan di luar. Refleksi: Bayi yang penglihatannya semakin tajam jadi lebih suka berkaca dan melihat sekitar Bintangku hari ini: ⭐⭐⭐⭐
Selama ini, saya berpegang erat dengan doa "Yaa Muqollibal qulub, Tsabbit qolbi alaa diinik (Wahai Dzat Yang Maha Membolak-balik Hati, tetapkanlah hatiku di atas jalan ini)." Saya menancapkan harapan bahwa saya akan tetap di jalan ini meski masih sering terjatuh dan iman compang-camping. Berupaya untuk tetap hadir di barisan pemohon ampunan meski selusuh-lusuhnya amalan. Pernah suatu ketika saya sedih sekali karena tak bisa menangis. Terasa berat dan sesak tapi tak bisa mengungkapkannya di hadapan Allah SWT. Di situ saya merasa hina sekali... Tapi kemudian saya kembali diingatkan tentang keluasan ampunan Allah SWT melalui berbagai cara-Nya. Kadang pengingat itu hadir via Facebook, Instagram, Tumblr, orang lewat, teman sejawat, dan lain-lain. Allah SWT selalu punya cara mengetuk hati hamba-Nya. Lembut sekali. (Saya nulisnya hampir nggak kuat nahan air mata. Mana orang-orang di rumah belum pada tidur. Kan malu, ngetik kok sambil nangis, hehe) Akhir-akhir ini, sedang viral v...
Aku kerap kali merasa bingung apa maksud dari perjalanan hidupku ini. Aku merasa nyaman dengan hidupku yang biasa saja. Bangun tidur, mandi, sholat subuh, sarapan kemudian sekolah. Aku mengikuti pelajaran di sekolah dengan tertib dan pulang tepat waktu. Aku pun juga membaca komik atau novel dan bermain dengan kawanku. Aku adalah anak biasa yang memiliki kualitas menengah di kelas dan tanpa bakat khusus. Tiap semester aku mendapat ranking 15 dari 30 anak. Walaupun begitu aku dengan senang hati menerimanya. Tak kusangka ternyata orang tuaku merasakan hal yang berbeda. Ibuku sering memuji anak tetangga ataupun temanku. Ini demi mendongkrakkan semangatku untuk berprestasi seperti mereka, katanya. Sedangkan ayahku menjadi pendengar setia bagi orang tua yang lainnya walau merasa risih ketika pertemuan rutin wali murid di sekolah. Mereka bercerita anaknya sering mendapatkan penghargaan dari bidang keahliannya masing-masing. Kawan-kawanku itu disebut...
Comments
Post a Comment