Posts

Showing posts with the label Ibu Profesional

Hari 9: Manajer diri sendiri

Mengatur diri sendiri itu penting banget supaya nantinya mudah beradaptasi dengan keadaan. Saat ini saya sedang berusaha mengatur waktu untuk menjalankan kuliah S2, mengambil project bareng kakak tingkat, terlibat kegiatan komunitas pelajar, berjejaring bersama kumpul dongeng buat persiapan Festival Dongeng, hingga kuliah online seperti IIP. Ya udah sih diterabas aja semuaa haha Sampai akhirnya sempat drop juga, batuk sampai dua atau tiga minggu gitu. Tapi ya sempat diobati pakai antibiotik juga eh masih batuk-batuk juga. Akhirnya dibiarkan sampai lupa batuknya.. Pelajarannya, saat saya tahu workload sedang banyak, makan saya juga jadi banyak, tidur juga nggak boleh kelewat. Sudah nggak kenal begadang sih, karena tahu takaran kerja berat dan ketahanan tubuhnya nggak bisa seperti dulu. Sekarang berusaha lebih enjoy dan realistis menghadapi tantangan kehidupan XD

Hari 8: Mengelola Uang

Tidak mudah mengurus soal uang. Banyak prinsip di keluarga yang agak longgar soal uang. Sebab, ya selama masih bisa terbeli dan butuh ya gapapa. Atau ya kalau itu keinginan yang tidak selalu dituruti ya nggakpapa juga. Meskipun begitu, ibu saya strict banget soal jurnal keuangan. Semua uang yang ada itu harus jelas darimana dan peruntukannya apa. Pernah suatu ketika jadi konflik gegara saya lupa mencatat pemasukan dan pengeluaran. Jadi ribet plus ribut! Mulailah saya pakai monefy alias aplikasi keuangan praktis yang ada di Android. Meskipun belum rajin, setidaknya sudah ada beberapa catatan yang mulai rapi. Tetapi dari ibu saya juga, saya jadi belajar bagaimana ibu begitu teliti soal uang, apalagi uang orang lain dan dana sosial. Beuh, ati-ati banget. Salah ngitung sebaris aja duuh urusannya bisa bikin melekan sampai pagi. Saya belajar banyak soal menjadi orang yang amanah dalam menjaga kepercayaan terutama hal yang sensitif bagi seluruh umat: duit!

Hari 6: Beberes

Saya suka banget kamar yang rapi, bawaannya hepi dan berpikir jadi lebih lancar. Sepertinya keyakinan seperti ini sudah mengalir dari Bapak dan Ibu hingga kakak dan adik saya. Saking suka rapinya, ibu saya kalau menjemur baju, arah gantungannya harus sama plek, ke kiri ya ke kiri semua. Handuk sudah ada kepemilikan berdasarkan warnanya. Gelas untuk minum masing-masing pun sudah ditata setiap pagi dan dipakai bolak-balik sampai paginya lagi. Terus jaman dulu banget, setiap buku di rumah ada nomornya. Ngeri kali lah kalau dibayangin. Tetapi sekarang nggak begitu banget sih. Udah lebih longgar prinsipnya. Nah, setelah saya mengenal seni beberes rumah, saya jadi lebih suka beberes buku dan kertas-kertas. Terasa sekali bahwa buku saya itu kebanyakan :( Terus juga belum ada kategori buku yang memudahkan untuk membaca. Apalagi hobi saya membaca buku itu tidak sampai habis sudah ganti buku yang lain lagi. Akhirnya, saya coba bagi dua kategori buku saja, buku yang sering atau lagi dibaca...

Hari 5: Masak

Sebagai orang yang suka eksperimen, saya jelas tertarik untuk memasak sesuatu. Mulai dari masak yang sederhana seperti dadar yang bisa dikreasikan macem-macem, hingga eskrim dan kue yang aneh-aneh. Namun, rupanya ibu saya kurang suka kalau saya kerja di dapur, lebih suka liat saya ngetik-ngetik sampe nggetu terus berhasil lulus ujian. Haha entahlah rasanya wajahnya lebih sumringah gitu. Tetapi karena saya seperti noda di baju alias bandel, saya tetap berusaha mencoba memasak beberapa makanan yang saya doyan. *yes, i am a picky eater. Tentu saja masaknya sering pas ga ada ibu biar kalau berantakan ga bikin kesel.. Trus kalau hasilnya gagal ya udah dimaem sendiri. Beberapa waktu lalu saya mencoba membuat garlic bread dan sego njamoer, alhamdulillah gampang bener :)) terus nyoba bikin makanan untuk dibawa jadi bekal ke kampus: ca sawi dan semur daging. Duh, ternyata enak banget kalau bisa mbekal dan nggak gofood. Hemat! Kapan-kapan harus bikin sesuatu lagi dan tidak boleh mager hehe

Hari 4: Sarapan Kata

Setahuku, masa kecil berlalu dengan sangat indah. Meu kecil yang tak takut pada apapun... kecuali kecoa. Berani memutuskan akan kemana, naik apa, berteman dengan siapa, mengajak berantem siapa, bernyanyi dan mengobrol dengan tamu ibu-bapak. Entah apa yang terjadi, Meu kecil tumbuh menjadi anak yang 'baik', tidak neko-neko, pintar karena masuk sepuluh besar.... dan ya, yang bermimpi seperti insidious. Cupu tetapi membanggakan. Ah iya, ada yang sama sih, dari kecil memang suka bertanya dan merepotkan sekali. Pikirannya susah dihentikan. Sampai akhirnya sudah sebesar sekarang, masih saja merepotkan. Setelah menyadarinya, saya jadi lebih peduli dengan apa yang saya ucapkan atau lakukan kepada keluarga. Mulai mengurangi porsi bertanya yang merepotkan dan menambah porsi komentar yang menyenangkan. Seperti yang terjadi di pagi kemarin, saat saya sarapan, Bapak menunjukkan video tentang pemandangan alam lengkap dengan bunyi gemericik air terjunnya. Sebagai anak yang tahu diri, sa...

Hari 3: Shopper

Saya itu sesungguhnya tidak suka belanja. Kalau ke mall sukanya makan sama nonton aja, tapi kalau belanja baju.. Waduh, langsung refleks kaki pegel2. Tapi kalau belanja buku sih beda lagi.. hehe Nah, kali kemarin saya akhirnya nyoba untuk go green sekalian belanja buah-buahan buat stok di rumah. Deket sih tempatnya, di sebelahnya pecel Tulungagung (manatuuh haha) Pokoknya lebih deket daripada jalan dari Jank-jank ke gedung fakultas. Tapi mungkin agak keburu jadilah naik sepeda motor berbekal tas bekas goodie bag wisuda. Sampai di sana, saya beli pecel dulu dong ya buat sarapan dilanjut beli buahnya. Pas lagi liat-liat buah, disapa dong sama Bapaknya yang jual, "wah, ibu mana?" pasti nanyain Ibu karena yang biasa belanja Ibu. "oh lagi di rumah lagi masak.." dijawab aja asal cepet belanjanya. Terus udah sat-set milih buah, eh ngantri dong bayarnya di Ibu penjual yang ada di dalam toko. Hmm... hmm nunggu agak lama, *hmm.. hmm x 1 jam udah kayak Nisa Sabyan Ya ud...

Hari 2: Tea time

Sudah jadi kebiasaan di keluarga, setiap pagi selalu minum teh dulu bahkan sebelum makan. Jadi, ritual setelah bangun, subuhan dan lain-lain adalah bikin teh. Biasanya sih ibu yang bikin karena saya masih pingin lanjutin ngaji dulu baru keluar kamar. Nah kemarin, dicoba atur waktunya supaya bisa duluan bikin teh. Yah mungkin keliatannya cuman gitu doang sih.. tapi gapapa lah ya lumayan. Saya udah mulai berdamai dengan ekspektasi supaya nggak 'ndakik2.' Nah setelah itu, ternyata emang bener apa kata iklan teh yang lagi pailit itu, enaknya ngobrol sambil ngeteh. Kami pun segera menghabiskan teh dan dilanjut sarapan sambil nonton TV. *katanya ga boleh tapi ya apa boleh buat lah ya, ibuku ga tahan hidup tanpa TV --" Mungkin cuman bentar banget waktu pagi itu, tetapi berarti banget karena kami mulai merasa waktu untuk mengobrol semakin sedikit. Entah kenapa makin kesini makin pada sibuk semua.... *melankoli Yah begitulah hari kedua. Semoga esoknya lebih baik :)

Hari 1: Morning Routine

Kali pertama saya menyadari saya ini nggak begitu mandiri dalam menginisiasi sesuatu. Saya seringkali mengamati dulu reaksi orang-orang di sekitar saya. Kalau mereka tidak berminat sementara saya bisa melakukannya barulah saya lakukan.. Yha emang kesuwen pol :)) Nah barangkali ya memang mungkin itulah yang saya harus atasi sendiri. Terkadang saya sibuk menanggapi pikiran saya yang kadang takut-takut nggak jelas. Akhirnya, saya jadi batal melakukan sesuatu atau mungkin telat melakukannya. Kali ini saya mencoba untuk mengawali hal-hal yang mungkin sebelumnya harus disuruh atau didorong oleh orang lain. Mencoba membangun motivasi dalam diri bahwa memutuskan sendiri dan legowo menerima hasil apapun yang ada itu baik. Agar saya tidak menyesal ke depannya. Bukankah menyesal karena melakukan sesuatu yang baik tapi hasilnya ga maksimal lebih baik daripada tidak melakukannya sama sekali? Tadi pagi misalnya, mulai mengaktifkan diri bangun tahajud langsung lanjut subuhan jama'ah sama ...

Ramah Lingkungan + hemat

Saya memulai untuk mengikuti jejak para zero wasters alias orang orang yang berusaha meminimalisir sampah dengan memakai barang yang dapat digunakan lebih dari sekali. Saya menghindari barang-barang sekali pakai seperti disposable menspad, tisu basah, dan botol plastik. Hidup di keluarga yang sangat menjunjung tinggi produktivitas aka kesibukan, membuat gaya hidup semakin menuntut untuk serba instan dan cepat. Sangat berkebalikan dengan saya yang ingin sekali hidup lebih lambat dan menikmati momen dengan ritme yang perlahan. Saya mencoba untuk merubah pola hidup dengan merefleksikan sebenarnya apa yang saya jalani selama ini berdampak bagi lingkungan. Saya melihat bahwa gaya hidup yang serba instan mendorong kita untuk berbelanja lebih sering. Sebab alasan praktis, kita sering mengambil jalur cepat dengan membeli fast food, gofood, dan take away supaya makan lebih praktis, tinggal bayar dan makan. Namun, kita lupa kalau ada konsekuensi dibaliknya yang mungkin terlihat remeh tapi berd...

Belajar Cerdas Finansial

Finansial Planning Saya pernah mengikuti sebuah pelatihan mengenai financial planning khususnya dalam urusan rumah tangga. Ada banyak gaya pengelolaan keuangan yang bisa dipilih, salah satunya adalah dengan pembagian pos anggaran. Nah, disini saya coba jabarkan mengenai pengelolaan keuangan dengan cara membagi pos-pos anggaran yang pernah saya coba. Memang paling mudah saat mendapat pemasukan, langsung dibelanjakan sesuai kebutuhan. Tetapi ketika saya belajar manajemen keuangan, saya jadi ingin lebih rapi lagi dalam pengelolaannya. Saya mencoba menggunakan pos-pos anggaran dengan membuat daftar kebutuhan pengeluaran. Pertama, yang paling penting adalah pos kebutuhan dasar seperti makan, minum, bensin, pulsa, dsb yang bersifat cair (sifatnya langsung, penting dan mendesak). Lalu menjadwalkan setiap hari mengeluarkan infaq minimal sekian (misalnya 5000 rupiah). Selanjutnya, karena saya masih belum cukup ilmu mengenai investasi, saya lebih sering menyimpan kelebihan dalam tabungan. ...

Hari ke-12: Blink!

Image
  Sebuah judul buku yang unik. Tentang proses yang mengalami perubahan fantastis. Membuat orang dengan sekejap mata dapat terpana. Sebab, betapa canggihnya, bahasa kekinian yang mewakili tentang kecepatan dan kehebatan.

hari ke-11: Mencari Esensi

Merayakan sesuatu jadi terasa penting abad ini. Semula mungkin memang ada pencapaian yang perlu disyukuri dengan berbagi kebahagiaan, tetapi agaknya semakin ke sini semakin ritual semata. Seperti yang sedang ramai dikunjungi netizen, galeri instagram. Bergantian bagai musim, perayaan demi perayaan digambarkan dalam kotak-kotak foto. Ada yang memilih untuk mengabadikan momen perayaan dengan mengunggah wajah bahagia dengan bunga di tangan dan di samping teman-teman seraya berpelukan, sambil diberi kutipan sebagai captionnya. Dilengkapi dengan video dan gaya foto bumerang. Ada pula yang menata hadiah sedemikian rupa hingga di foto terlihat betapa banyak yang begitu ingin ikut berbahagia dengannya. Saya pernah membaca sebuah buku tentang Happiness project , sebuah buku kuning biru yang cerah ceria seperti judulnya. Terasa begitu menyenangkan karena kita dibuatnya keluar dari rutinitas dan lebih banyak mengasah kreativitas. Ternyata, kebahagiaan dapat dicari dari hal-hal yang sangat de...

hari ke-10: membaca adalah idealisme

kadang kita susah disuruh diam. inginnya bicara di saat seharusnya diam. kadang pula kita justru diam saat seharusnya kita bicara. ada yang salah dengan sikap kita. mungkin kita belum cukup bijak menilai sesuatu atau keadaan sehingga tidak tepat menyikapinya. atau mungkin kita belum paham akan suatu hal tetapi buru-buru untuk menilai. alangkah baiknya jika kita tidak membiasakan diri terburu-buru dalam banyak hal. mungkin sebelum kita membuka kata, kita serap dulu apa yang perlu dimengerti. barangkali membaca situasi dengan perlahan justru menjadi kunci dari bijaknya menyikapi. bukannya menjadi bodoh apabila kita mengatakan tidak tahu jika memang benar bahwa kita belum tahu. bukannya menjadi salah kalau kita menahan diri untuk tidak melakukan apa-apa yang semua orang lakukan ketika tahu itu meragukan. saat belajar kita boleh salah agar nantinya tidak salah. yang tidak boleh itu, menyalahkan dan tidak be...

Hari ke-9: Merapikan ala KonMari

Image
Saya lagi suka beres-beres di rumah meski rasanya berabad-abad tidak beres juga. Ternyata yang saya lakukan saat merapikan berbagai hal di rumah ini tidak efektif dan justru membuat saya harus beres-beres lagi di lain waktu. Ini cara lama yang diajarkan ibu saya yang cukup sibuk sehingga beliau selalu menyarankan untuk membongkar satu laci dan menyusunnya, baru berganti ke laci yang lain. Dan ternyata di waktu lain, saya perlu membongkar laci yang telah disusun tersebut karena lupa menaruh dimana atau ternyata ada barang-barang yang hanya menjadi timbunan tapi saya eman membuangnya. Saya bertemu dengan bukunya Marie Kondo saat ada topik tentang berberes di rumah di salah satu kulwapp IIP kalau tidak salah. Cepat-cepat saya pesan bukunya melalui toko Gramedia online dan berharap dapat diskonan (tetep). Tetapi saya tidak begitu peduli soal harga karena pas sekali saya sedang membutuhkan buku ini dan lagi ada anggaran belanja buku. Meskipun begitu saya ternyata tidak bisa menghabi...

Hari ke-8: E-book bagi yang sibuk

Saya tidak begitu suka e-book awalnya. Apa sih itu? paperless katanya. Tapi kok tetep nggak enak kalau nggak di print ya? Hmm Saya mulai mengambil alternatif membaca buku dengan e-book sejak saya mengenal website cerita rakyat dari berbagai belahan dunia. Judul websitenya, Long Long Time Ago . Menariknya saat itu, saya bisa membaca tentang asal-usul mitos dari seluruh dunia (ya meski nggak mencakup semuanya, tetapi yang biasanya populer saja di negara atau daerah asalnya). Saya mengenal itu sejak saya mengeenal Friendster. Hehe (kids jaman old) Saya pun mengoleksi beberapa cerita, diantaranya yang paling berkesan adalah mitos tentang mengapa langit itu tinggi, mengapa laut itu asin dan tentu saja legenda dari Indonesia :) Haha (emangnya ada? ah saya juga lupa sih, seingat saya itu ada cerita Indonesia, tapi judulnya lupa -_-) Pokoknya saya bahagia sekali saat itu bisa dapat banyak referensi dongeng untuk dibaca dan barangkali saya jadi punya bahan omongan dengan teman-teman di seko...

Hari ke-7: Menjaga Semangat Membaca

Saat membaca sebuah cerita yang menyenangkan, pikiran saya selalu terbawa pada imajinasi ketika saya masih kecil, bermain-main dan bersepeda di lapangan balai RW hingga disengat lebah, sampai saat di rumah saya belajar dengan cara dibacakan bukunya oleh ibu dan ayah. Mungkin apa yang saya rasakan sekarang seperti iri pada masa kecil saat saya punya banyak waktu yang menyenangkan karena tidak sibuk dengan hal-hal yang berbau dewasa. Saya yang merasa tidak punya kepentingan saat masa itu pun enteng saja ketika diajak mencuci mobil, memasak, dan sebagainya sebagai sesuatu yang baru, seru dan menantang. Terlebih ketika saya mengenal ensiklopedi, saya jadi semakin penasaran dan keingintahuan saya berkembang jauh lebih besar. Rupanya, hal-hal yang terlihat kecil dan remeh temeh bisa jadi berkesan dan membuat saya menjadi orang yang seperti sekarang. Saya suka membaca. Ternyata sejak di dalam kandung ibu, saya sudah terbawa atmosfer membaca dari ayah dan ibu yang sering berlangganan majal...

Hari ke-6: Semua itu Guru

Image
Belajar sama-sama.... Berkarya sama-sama... Kerja sama-sama... Semua orang itu guru Alam raya sekolahku Sejahteralah bangsaku Itu adalah secuplik lirik lagu dari pasangan duet hits di dunia literasi Indonesia, Ribut Cahyono , Karina Adistiana. Menyiratkan bahwa kehidupan ini nyatanya memang sebuah tempat belajar sesungguhnya. Kita diperkenankan melakukan berbagai hal meskipun pernah salah tetapi yang terpenting adalah belajar dari kesalahan. Kita bebas belajar dimana saja, apa saja, dan dari siapa saja. Semua yang kita alami saat ini pun adalah hasil belajar yang telah lalu. Mungkin tidak ada rapornya atau ijazahnya, tetapi yang terpenting adalah pribadi yang lebih percaya diri untuk menghadapi tantangan hidup berikutnya. Meskipun, kita telah terbiasa diberikan pemahaman bahwa yang namanya belajar itu ya mengerjakan PR dari sekolah atau mengerjakan tugas dan mendengarkan ceramah guru di sekolah, kita mestinya bisa memahami kalau di luar itu semua kita tetap harus belajar....

Hari ke-5: Menelusuri Jejak Baca

Apa yang kita pikirkan saat ini adalah hasil dari proses belajar kita akan suatu hal. Semenjak saya mengenal buku-buku motivasi, saya jadi merasa ada keperluan untuk terus memperbarui pola pikir saya supaya tidak mudah lemah dan menyerah menghadapi variasi masalah atau tantangan dalam hidup. Saya menemukan beberapa kepingan semangat yang kemudian bisa saya susun untuk menegakkan kembali punggung saya dan membuat saya jadi lebih berani menyelesaikan permasalahan. Semua yang saya rasakan saat ini pun adalah hasil dari hati yang mengalami pasang surut harapan dan hujan tempaan yang hadir di setiap masanya. Mungkin saya sering baper (terbawa perasaan) saat membaca suatu kisah yang biasa saja atau saat menceritakan kembali sebuah tokoh yang  menurut saya too good to be true karena saking baiknya. Tapi sebenarnya, yang terpenting adalah betapa setiap perjalanan yang saya baca atau lika-liku kehidupan seseorang bisa begitu terasa di relung hati saya seolah-olah saya sendiri yang mengal...

Hari ke-4: Meresapi Tiap Bacaan

Saya tidak tahu sebenarnya apakah apa yang saya lakukan terhadap buku-buku ini sudah tepat. Saya berusaha sebisa mungkin membeli buku yang asli (dan diskon) lalu segera menuliskan nama dan tanggal dibelinya supaya tidak lupa. Terkadang saya memberikan nama kota tempat dibelinya supaya makin berkesan. Ah iya, saya jadi teringat buku-buku saya yang hilang. Bahkan beberapa di antaranya adalah seri yang ada tandatangan penulisnya. Hiks. Makanya kadang saya menyesal sudah meminjamkan buku saya tanpa mencatat dan menagihnya. Tapi ya, sudahlah, diikhlaskan saja. Saya suka memberikan makna tersendiri bagi setiap buku yang saya miliki. Entah dari ceritanya yang memang bagus sehingga saya baca berkali-kali, atau bahkan justru karena cara mendapatkannya yang unik yang membuat saya eman untuk merelakannya. Dulu, selain memberikan identitas dan tanggal pada buku, saya juga memberikan selotip pada ujung buku supaya lebih awet dan tidak mudah tertekuk. Tapi lama kelamaan, saya malas juga. Hehe. Ak...

Hari ke-3: Merimbunkan Daun Buku

Image
Saya baru bisa bikin via laptop seperti ini pohon literasinya :D meski sederhana setidaknya sudah ada semangat dan terbayang akan seperti apa nanti versi offline nya (oh iya, saya berencana bikin yang lebih besar dan bisa sambil main tempel-tempel kertas serta menghias). Buku yang saya baca ulang adalah buku Totto Chan. Sebab, buku ini berkesan sekali sampai saya sering teringat momen-momen dimana anak yang unik ini melakukan hal-hal yang tidak terduga. Saya juga ingin membuat tulisan mengenai kepribadian Totto Chan menurut versi saya dengan digabungkan cerita-cerita yang ada di sekitar. Pesan moral yang ditanamkan juga kuat meskipun tidak dijelaskan di dalam buku tersebut. Justru dengan begitu, pembacanya malah jadi lebih bisa mengeksplorasi imajinasi dan perasaannya saat membaca buku dan mengambil hikmah yang lebih relevan di kehidupan sehari-hari. Buku yang kedua saya baca adalah Happiness Laboratory, buku ini adalah buku bacaan yang cukup ringan, menceritakan banyak hal khus...