Posts

Showing posts with the label siluet dan biru

Tak Akan Apa-Apa

Seseorang pernah berkata padaku bahwa ekspresi yang paling mudah dalam kata-kata adalah puisi. Jujur dan tak seorang pun berhak menjadi yang paling ahli mendefinisi. Bahkan dirimu sendiri. "Kita tak perlu menjadi api untuk menghangatkan. Cukup satu peluk untuk menghalau angin membekukan. Kita tak perlu menjadi es untuk mendinginkan. Cukup satu ucap 'maaf' untuk mengusir panas dari ubun-ubun. Aku rasa risau tak pernah hilang karena kita tak pernah merasa cukup dan tak mau mengerti bahwa semua bisa disederhanakan. Aku rasa aku tak cukup berani menampakkan diri karena tembok kekalutan kubiarkan tumbuh tinggi-tinggi." Katanya, kita terlahir sebagai sebuah seni. Jangan sampai mereka merampas keotentikan dirimu dengan hiruk pikuk dunia yang melelahkan. Biarkan keunikanmu ketergerai bersama aliran sungai yang deras menyegarkan. Biarkan mengalir tulus menuju muaranya. Sby, 15-08-2016, pukul 08.38 ---------------------------------- Hai alterego, sampai jumpa l...

Best-friend

Adult Life Crisis. Mungkin aku telah sampai pada kepingan puzzle terakhir sebelum menyimpulkan apa sahabat itu sebenarnya. Ketika hidupmu terasa begitu cepat berlalu sementara pekerjaan tak kunjung rampung. Sahabat datang untuk hadir menertawakan kehidupan dan menikmatinya bersama. Tidak ada kata 'selalu' atau 'tumben' karena sahabat tak selalu bisa ditebak, tapi rasanya selalu dapat mengerti dan terkoneksi. Belajar soal unconditional love kepada sahabat bahkan dari hal-hal yang tidak disadarinya. Ketika ia rela memarahimu saat kamu lengah, saat ia diam seolah tekun mendengarkan padahal ia sedang dilanda bosan.. Terkadang ia begitu menyebalkan dan ingin dipenuhi keinginannya hanya untuk menunjukkan pada dunia bahwa ia punya sahabat. Padahal engkau siapa? Trust issue. Ketika mulai membicarakan hal-hal serius dan masa depan, kau mulai banyak gelisah. Ada harap dan cemas di sana. Sepertinya imaji dunia yang dibangun segera sirna bila kau melangkah sekali saja. Melesa...

2: Caraku Memandang Dunia Tak Lagi Sama

Izinkan aku sekadar membangun ruang bagi impianku. Izinkan aku memanggilmu anda, supaya ada sedikit jarak yang membuatku lebih leluasa. Ruang itu kini membesar tetapi temboknya kian tipis dan transparan. Anda pun memaksa membuat keakuanku menjadi kita. Kita mengubah apa-apa yang sudah kuletakkan di sana, padahal dulu selalu pada tempatnya. Sampah itu kini tercipta meski tak kuizinkan keluar dari kotaknya. Biar, biar aku yang bertanggungjawab atasnya. Nantilah kubuang kapan-kapan saat tak ada orang. Biar kumengendap-endap di malam senyap supaya besok pagi semua senang. Maaf-ku tiba-tiba meloncat begitu saja hinggap pada tanda tanya. Tak kusangka perlahan kau, wujud revolusi dari anda, menyelidiki semua. Ketika ruang itu bergetar hebat, kau masih di sana entah menungguh runtuhnya. Tapi kemudian kau ambilkan selembar kertas origami berwarna. Lapuk-lapuk yang tak kumengerti kau tutupi dengan kerajinan bangau berdiri. Lalu kudengar ketel berbunyi, saatnya minum teh sambil ...

1: Just Me

"Pernah kukata, gumpalan awan bisa sangat menyembuhkan, sebuncah resah dan sembilu hatiku." Duh, ngomong apa sih? Anak itu mesti gitu. Tiba-tiba lho, ngigau nggak juelas. Meski, yah, ada benernya sih. Kalau pas lagi sedih terus melihat langit itu... sedihnya jadi berkurang. Kayak ada saklar yang bikin ganti suasana ketika mendongakkan kepala. Suatu saat kutanya, hei, liat langit terus, nggak bosen apa? kayak orang ngelamun pingin terbang tau nggak.. Tapi nggak kesampaian. Kasihan. Dia cuman terkekeh. "Cuman begini yang bikin aku merasa menjadi diriku sendiri, menyatukan kembali bagian dari diriku yang terserakan karena distraksi.. Langit itu, di ujung sana, rasanya seperti tempat kembali."  Nggh. Cegek, kedua puluh tiga kali. Dan.. kata-katanya selalu kuulang seperti rekaman kaset yang diputar pakai pensil, perlahan sambil dikira-kira sejauh mana ingin kuulang perkataannya. Bener lagi. Katanya nenek moyang kita memang berasal dari ujung langit bernama su...

Dimulai dari Sampah di Depanmu

Keluh-kesah mewarnai sepanjang hari. Namun di salah satu hari itu, pelajaran yang ia dapat, melompat dari sebuah buku. Judulnya "Pedang Samurai dan Bunga Seruni." Bikinan orang Jepang? Bukan. Lagi-lagi penelitinya orang Barat. Namun serangkaian representasinya mendekati benar. Hingga pagi itu memberi bukti. Tidak mungkin seseorang bisa berjalan sambil tidur, apalagi berperang. Namun tentara Jepang, pada puluhan tahun lalu, berbaris menempelkan senjatanya di punggung temannya sambil berjalan ke arah musuh. Taktik mereka bukan gerilya, tetapi mereka tidur dan bangun di saat yang tepat. Mereka melakukan keduanya sambil berjalan terus hingga musuh gentar. 'Pertanyaan saya adalah: kekuatan apakah itu?' 'Kekuatan itu adalah semangat kesungguhan hati. Kesungguhan hati yang adalah tidak menipu, berarti "mengerahkan seluruh dirinya", secara teknis dikenal dengan "seluruh dirinya sedang beraksi" ....dan  dalam aksi itu tak ada yang ditinggalkan sebaga...