Posts

Showing posts with the label MathAroundUs

Menilai diri dan orang lain

Pernah mendengar tentang standar ganda? Terkadang kita dengan mudahnya menilai orang lain salah karena kita merasa dia tidak berada di pihak kita. Hanya karena pilihan yang berbeda, kita menggeneralisasi penilaian kita pada orang lain berdasarkan perbedaan itu. Padahal, itu justru bisa merusak logika berpikir kita. Kita jadi mengandalkan standar ganda, kalau aku dan kelompokku benar apapun alasannya, kalau dia dan kelompoknya pasti salah, meskipun ada bagian benarnya. Pokoknya salah! Nah, ini yang membuat pikiran semakin tidak jernih memandang suatu hal. Kita perlu memperbaiki mindset diri kita untuk tidak salah berlogika. Mungkin kita masih ingat dengan soal logika berikut ini: A>B B>C A>C? (jika A maka B, jika B maka C. Nah, apakah berarti jika kondisi A maka terjadi C?) Masih bingung? Coba kita perhatikan contohnya saja. Jika Ibu memasak, maka Ayah senang. Jika Ayah senang, maka anak diajak jalan-jalan. Apakah jika Ibu memasak, maka anak diajak jalan-jalan? ...

Mencari Peluang

Sebagai manusia alias homo economicus biasanya suka sekali yang namanya gratisan atau diskonan. (Siapa yang nggak suka coba? Hehe). Ternyata ini sedari kecil sudah tertanam bahkan dibiasakan oleh keluarga dan masyarakat di sekitar. Saat membeli sebuah makanan, normalnya kita terbiasa sudah menilai kesesuaian antara porsi dan harganya. Begitu ada tawaran dapat bonus mainan, misalnya, maka itu jadi petimbangan yang lain yang menarik hati konsumen khususnya anak-anak. Saat masih anak-anak, saya pun sudah sangat familiar dengan aneka penawaran makanan maupun mainan yang berbonus mainan pula. Jajanan semacam Chiki, Cheetoz, dan sebagainya selalu melampirkan kata bonus beragam mainan di bungkusnya. Kini, bonus telah menjelma menjadi lebih atraktif dan beragam lagi jenisnya. Pedagang dan pembeli sama-sama semakin jeli dan kreatif melancarkan strategi. Saya tidak begitu suka berbelanja sih. Tetapi kalau soal diskon, saya masih sering update :D Cukup tahu saja. Kadang juga saya getol mencar...

Penuh Perhitungan

Sejak SMA saya mengikuti sebuah komunitas yang membuat saya harus lebih disiplin diri. Sebut saja lingkaran cinta. Di sana saya mendapatkan pencerahan tentang indahnya ukhuwah dan terlebih lagi cara mencintai jalan hidup yang saya pilih, yakni Islam. Semangat yang menggebu untuk mengenal lebih dekat jalan ini membuat saya ingin lebih banyak memperbaiki diri. Saya mulai dengan hal yang sangat dekat dan mudah dikenali, diri sendiri. Amal yaumi, sebuah evaluasi yang harus dilakukan tiap hari, saya periksa satu demi satu. Sesuai target kah? Apa bisa ditingkatkan kah? Katanya, hisablah sebelum dirimu dihisab.... Meski sedikit tetapi istiqomahlah... Berharap, dengan adanya perhitungan yang diadakan atas diri bisa membuat diri lebih bersiap untuk hari yang pasti.

Menyederhanakan Problematika

Saat melihat kembali ke masa-masa belajar matematika. Ada keasyikan yang saya rasakan ketika menyelesaikan berbagai soal-soal di buku pelajaran. Sampai-sampai saya penasaran dengan pelajaran di bab berikutnya yang belum diberikan. Saya merasa ada semacam petualangan memecahkan teka-teki. Semacam bermain angka dan main tebak-tebakan. Semakin ke sini saya merasa matematika lebih banyak berperan untuk menyederhanakan hidup yang terlihat rumit. Adalah bracketing, prinsip matematika yang saya pakai saat saya merasa penat dalam kesibukan. Hehe itu saya bikin sendiri sih... Intinya saya kelompokin dulu persoalan-persoalan yang setipe dan dapat diselesaikan di level yang sama. Mulai dari yang mudah dulu atau yang sumbernya dapat dijangkau. Baru kemudian menyelesaikan permasalahan yang berada setingkat di atasnya dan seterusnya.

Melogika Alam Semesta

Tantangan IIP makin seru aja nih... Jadi semakin tertantang untuk menangkap momen dan menyusun kata-kata.. Karena matematika di sekitar kita itu buanyak sekali. Saya menemukan salah satu prinsip yang menggunakan dasar matematika di sebuah kebiasaan ibu saya di rumah. Ibu saya sangat perfeksionis. Dalam hal menggantung baju saja, arahnya harus sama. Menjemur baju harus dikelompokkan dalam ukuran dan jenisnya. Termasuk pula dalam hal mengukur sesuatu. Semua seolah sudah ada rumusannya dan kita tinggal mengikutinya. Saya sempat bosan dan ingin menerobos segala ukuran yang baku itu. Tetapi di sanalah saya belajar banyak tentang pentingnya membuat aturan-aturan sederhana dan berusaha menaatinya. Mungkin memang kita perlu melebarkan pandangan dan menerima lebih terbuka segala ilmu yang dihamparkan di bumi ini. Mencoba memadukan antara seni dan sains supaya hal yang kacau lebih mudah dicerna dan yang kaku lebih terurai maknanya.