Posts

Showing posts with the label IIP

Hari 10: It's okay not to be okay

Pikiran saya sering berlari ke masa depan atau ke masa lalu. Pada saat yang sama, saya masih ingin menikmati masa kini yang sayang banget kalau terlewatkan. Dalam beberapa hal, saya bisa merasakan sesuatu seperti dejavu dengan sangat intens dan logikanya malah nggak jalan. Tapi di hal yang teoritis, saya bakal berpikir jauh tentang bagaimana jika begini dan logikanya akan seperti apa. Kemudian saat pikiran kembali ke saat sekarang, yah ternyata nggak relevan. Somehow, it makes me anxious. Akhir-akhir ini, saya mencoba menyelami diri sendiri dan mengajak bicara yang ada di dalam sana. Sebenarnya apa yang kamu rasakan sekarang, coba deh diutarakan. Jangan menghindar, katakan saja, lalu coba sandingkan dengan suara dari pikiranmu... Semakin ke sini, semakin terlatih. Saya berusaha untuk belajar mengenali diri sendiri untuk nantinya saya bisa bangkit ketika saya menghadapi kesulitan-kesulitan hidup dan menjadi agen kebaikan untuk mengajak orang lain bersama-sama mengalaminya.

Hari 9: Manajer diri sendiri

Mengatur diri sendiri itu penting banget supaya nantinya mudah beradaptasi dengan keadaan. Saat ini saya sedang berusaha mengatur waktu untuk menjalankan kuliah S2, mengambil project bareng kakak tingkat, terlibat kegiatan komunitas pelajar, berjejaring bersama kumpul dongeng buat persiapan Festival Dongeng, hingga kuliah online seperti IIP. Ya udah sih diterabas aja semuaa haha Sampai akhirnya sempat drop juga, batuk sampai dua atau tiga minggu gitu. Tapi ya sempat diobati pakai antibiotik juga eh masih batuk-batuk juga. Akhirnya dibiarkan sampai lupa batuknya.. Pelajarannya, saat saya tahu workload sedang banyak, makan saya juga jadi banyak, tidur juga nggak boleh kelewat. Sudah nggak kenal begadang sih, karena tahu takaran kerja berat dan ketahanan tubuhnya nggak bisa seperti dulu. Sekarang berusaha lebih enjoy dan realistis menghadapi tantangan kehidupan XD

Hari 6: Beberes

Saya suka banget kamar yang rapi, bawaannya hepi dan berpikir jadi lebih lancar. Sepertinya keyakinan seperti ini sudah mengalir dari Bapak dan Ibu hingga kakak dan adik saya. Saking suka rapinya, ibu saya kalau menjemur baju, arah gantungannya harus sama plek, ke kiri ya ke kiri semua. Handuk sudah ada kepemilikan berdasarkan warnanya. Gelas untuk minum masing-masing pun sudah ditata setiap pagi dan dipakai bolak-balik sampai paginya lagi. Terus jaman dulu banget, setiap buku di rumah ada nomornya. Ngeri kali lah kalau dibayangin. Tetapi sekarang nggak begitu banget sih. Udah lebih longgar prinsipnya. Nah, setelah saya mengenal seni beberes rumah, saya jadi lebih suka beberes buku dan kertas-kertas. Terasa sekali bahwa buku saya itu kebanyakan :( Terus juga belum ada kategori buku yang memudahkan untuk membaca. Apalagi hobi saya membaca buku itu tidak sampai habis sudah ganti buku yang lain lagi. Akhirnya, saya coba bagi dua kategori buku saja, buku yang sering atau lagi dibaca...

Hari 5: Masak

Sebagai orang yang suka eksperimen, saya jelas tertarik untuk memasak sesuatu. Mulai dari masak yang sederhana seperti dadar yang bisa dikreasikan macem-macem, hingga eskrim dan kue yang aneh-aneh. Namun, rupanya ibu saya kurang suka kalau saya kerja di dapur, lebih suka liat saya ngetik-ngetik sampe nggetu terus berhasil lulus ujian. Haha entahlah rasanya wajahnya lebih sumringah gitu. Tetapi karena saya seperti noda di baju alias bandel, saya tetap berusaha mencoba memasak beberapa makanan yang saya doyan. *yes, i am a picky eater. Tentu saja masaknya sering pas ga ada ibu biar kalau berantakan ga bikin kesel.. Trus kalau hasilnya gagal ya udah dimaem sendiri. Beberapa waktu lalu saya mencoba membuat garlic bread dan sego njamoer, alhamdulillah gampang bener :)) terus nyoba bikin makanan untuk dibawa jadi bekal ke kampus: ca sawi dan semur daging. Duh, ternyata enak banget kalau bisa mbekal dan nggak gofood. Hemat! Kapan-kapan harus bikin sesuatu lagi dan tidak boleh mager hehe

Hari 4: Sarapan Kata

Setahuku, masa kecil berlalu dengan sangat indah. Meu kecil yang tak takut pada apapun... kecuali kecoa. Berani memutuskan akan kemana, naik apa, berteman dengan siapa, mengajak berantem siapa, bernyanyi dan mengobrol dengan tamu ibu-bapak. Entah apa yang terjadi, Meu kecil tumbuh menjadi anak yang 'baik', tidak neko-neko, pintar karena masuk sepuluh besar.... dan ya, yang bermimpi seperti insidious. Cupu tetapi membanggakan. Ah iya, ada yang sama sih, dari kecil memang suka bertanya dan merepotkan sekali. Pikirannya susah dihentikan. Sampai akhirnya sudah sebesar sekarang, masih saja merepotkan. Setelah menyadarinya, saya jadi lebih peduli dengan apa yang saya ucapkan atau lakukan kepada keluarga. Mulai mengurangi porsi bertanya yang merepotkan dan menambah porsi komentar yang menyenangkan. Seperti yang terjadi di pagi kemarin, saat saya sarapan, Bapak menunjukkan video tentang pemandangan alam lengkap dengan bunyi gemericik air terjunnya. Sebagai anak yang tahu diri, sa...

Hari 3: Shopper

Saya itu sesungguhnya tidak suka belanja. Kalau ke mall sukanya makan sama nonton aja, tapi kalau belanja baju.. Waduh, langsung refleks kaki pegel2. Tapi kalau belanja buku sih beda lagi.. hehe Nah, kali kemarin saya akhirnya nyoba untuk go green sekalian belanja buah-buahan buat stok di rumah. Deket sih tempatnya, di sebelahnya pecel Tulungagung (manatuuh haha) Pokoknya lebih deket daripada jalan dari Jank-jank ke gedung fakultas. Tapi mungkin agak keburu jadilah naik sepeda motor berbekal tas bekas goodie bag wisuda. Sampai di sana, saya beli pecel dulu dong ya buat sarapan dilanjut beli buahnya. Pas lagi liat-liat buah, disapa dong sama Bapaknya yang jual, "wah, ibu mana?" pasti nanyain Ibu karena yang biasa belanja Ibu. "oh lagi di rumah lagi masak.." dijawab aja asal cepet belanjanya. Terus udah sat-set milih buah, eh ngantri dong bayarnya di Ibu penjual yang ada di dalam toko. Hmm... hmm nunggu agak lama, *hmm.. hmm x 1 jam udah kayak Nisa Sabyan Ya ud...

Hari 2: Tea time

Sudah jadi kebiasaan di keluarga, setiap pagi selalu minum teh dulu bahkan sebelum makan. Jadi, ritual setelah bangun, subuhan dan lain-lain adalah bikin teh. Biasanya sih ibu yang bikin karena saya masih pingin lanjutin ngaji dulu baru keluar kamar. Nah kemarin, dicoba atur waktunya supaya bisa duluan bikin teh. Yah mungkin keliatannya cuman gitu doang sih.. tapi gapapa lah ya lumayan. Saya udah mulai berdamai dengan ekspektasi supaya nggak 'ndakik2.' Nah setelah itu, ternyata emang bener apa kata iklan teh yang lagi pailit itu, enaknya ngobrol sambil ngeteh. Kami pun segera menghabiskan teh dan dilanjut sarapan sambil nonton TV. *katanya ga boleh tapi ya apa boleh buat lah ya, ibuku ga tahan hidup tanpa TV --" Mungkin cuman bentar banget waktu pagi itu, tetapi berarti banget karena kami mulai merasa waktu untuk mengobrol semakin sedikit. Entah kenapa makin kesini makin pada sibuk semua.... *melankoli Yah begitulah hari kedua. Semoga esoknya lebih baik :)

Hari 1: Morning Routine

Kali pertama saya menyadari saya ini nggak begitu mandiri dalam menginisiasi sesuatu. Saya seringkali mengamati dulu reaksi orang-orang di sekitar saya. Kalau mereka tidak berminat sementara saya bisa melakukannya barulah saya lakukan.. Yha emang kesuwen pol :)) Nah barangkali ya memang mungkin itulah yang saya harus atasi sendiri. Terkadang saya sibuk menanggapi pikiran saya yang kadang takut-takut nggak jelas. Akhirnya, saya jadi batal melakukan sesuatu atau mungkin telat melakukannya. Kali ini saya mencoba untuk mengawali hal-hal yang mungkin sebelumnya harus disuruh atau didorong oleh orang lain. Mencoba membangun motivasi dalam diri bahwa memutuskan sendiri dan legowo menerima hasil apapun yang ada itu baik. Agar saya tidak menyesal ke depannya. Bukankah menyesal karena melakukan sesuatu yang baik tapi hasilnya ga maksimal lebih baik daripada tidak melakukannya sama sekali? Tadi pagi misalnya, mulai mengaktifkan diri bangun tahajud langsung lanjut subuhan jama'ah sama ...

Kreasi Tanpa Plagiasi

Saya agak sedih dengan pemberitaan kemarin-kemarin masalah cerpenis yang ternyata memplagiat hasil karya orang lain. Bahkan sampai berani-beraninya diikutkan lomba cerpen dan menang sampai diterbitkan di penerbit besar. Padahal jelas sekali bahwa ia hanya mencopy-paste tulisan dan hanya mengganti judul ceritanya saja. Benar-benar plek ketiplek isinya, kata perkata, bahkan titik koma. Parahnya tidak cuman 1-2 kali saja, tapi sampai 24 kali! Itu baru yang ketahuan, entahlah kalau sampai nambah daftar plagiasinya.  Dari situ saya belajar tentang pentingnya menghargai karya. Baik milik sendiri maupun orang lain. Saya pun juga belajar untuk berkreasi dengan cara mengambil inspirasi dari berbagai tempat, dan memodifikasi dengan cara yang lain lagi. Kalau sudah plek sama, lah bukan inspirasi sih namanya --" Dengan percaya diri bahwa kita bisa menghasilkan karya orisinal, kita sudah menghargai diri kita sendiri dan bersyukur kepada Allah atas ilham yang diberikan-Nya. Sebenarnya bany...

Kreatif dalam Syukur

Selama ini kita mungkin sudah terbiasa dengan program yang membuat kita menjalani rutinitas yang biasa. Sampai akhirnya pada satu titik merasa jenuh. Berarti sudah waktunya untuk mencoba cara baru, sudut pandang baru atau yang berbeda dari biasanya. Setelah melakukan ativitas rutin scrolling Instagram (membunuh waktu yang sangat tidak efektif :( ) saya memutuskan untuk mencoba merutinkan jurnal syukur yang dulu sempat menjadi tugas seminar. Awalnya saya abaikan begitu saja karena tidak yakin akan membuat saya berubah. Tapi akhirnya setelah membaca kisah-kisah heroik orang-orang yang mengalahkan 'dirinya' sendiri, saya akhirnya mau juga. Saya coba dengan hal yang sederhana seperti memikirkan apa yang membuat saya masih survive saat ini, atau hal positif apa yang terjadi di hari ini. Saya coba lagi dengan cara lain, menanyakan kepada orang lain apa yang membuat mereka senang atau bersyukur. Ternyata itu juga efektif menularkan rasa syukur kepada saya. Rasanya jadi ikut bahagi...

Menerima Rezeki

Sungguh ingin sekali rasanya memiliki jiwa yang berkecukupan. Tidak mudah mengeluh atas pemberian apapun karena semuanya sudah ada yang ngatur. Tidak gampang lupa sama yang memberi karena kita diajarkan untuk ingat selalu cara berterima kasih. Seorang yang hidupnya sederhana bisa mencukupi kebutuhan diri bahkan memberi untuk orang lain di sekitarnya asalkan hatinya berkelimpahan. Pikiran tidak ruwet mencari pembenaran atas tuduhan kondisi yang menurutnya tidak mendukung keinginannya. CUKUP adalah tujuan utamanya. Kekurangan tidak dirasa karena yakin ada cukup banyak peluang datangnya rezeki kepada kita. Allah.... berikanlah kami kelapangan hati untuk dapat mudah bersyukur atas segala karuniamu :"

Catatan Keuangan Digital

Image
Hari ini saya mencoba untuk mengunduh dan memasang aplikasi keuangan yang bernama Household Account Book. Aplikasi finansial ini lucu dan unik sih menurut saya. Tampilannya yang memang berupa karakter manga yang bergerak-gerak ala boomerang membuat aplikasi ini jadi terlihat imut dan nggak seserius namanya. Saya coba untuk melihat-lihat fitur yang dibawa aplikasi bikinan jepang ini dan sangat cocok buat saya yang suka pencatatan ringkas dan sederhana. Aplikasi imut nan simpel untuk keuangan Aplikasi ini tergolong mudah digunakan alias user friendly . Saat masuk aplikasi, jangan lupa mengubah mata uang menjadi Indonesian Rupiah dari setting awalnya yang berupa mata uang yen Jepang. Tinggal klik others - setting - convert money . Lalu untuk mulai mencatat langkahnya cukup simpel. Kita langsung diberikan opsi untuk mengisi catatan dengan mengetikkan jumlah uang dalam tampilannya yang seperti kalkulator. Lalu disimpan dalam kategori yang kita inginkan, apakah pembayaran (paid) atau...

Bisnis di Masa Kecil

Saya ingin sekali membuka usaha bisnis sesuatu sejak dulu. Tapi seringkali mentok karena merasa tidak cukup modal untuk memulainya. Namun, seiring berjalannya waktu saya mengamati bahwa orang-orang yang memulai usaha itu tidak selalu menunggu punya modal uang banyak. Bahkan ada yang hanya bermodal kartu nama atau malah tidak bermodal uang sama sekali atau biasanya disebut modal dengkul. Keinginan saya memulai bisnis ini sebenarnya sudah sempat terwujud sejak kelas 1 SD dimana saya dan sahabat saya memetik kembang sepatu dan menggunakan dasar bunga serta mahkotanya untuk membersihkan sepatu sekolah (terbuat dari kulit sintetis). Setiap teman yang kami tawari untuk dibersihkan sepatunya bersedia menghargai 100 rupiah per pasang sepatu. Jangan dibayangkan sepatunya orang dewasa yang guede ya.. Ini kan sepatu anak-anak, jadi mestinya nggak berat membersihkannya >.< Di kelas tinggi (kelas 4-6 SD) saya juga membuka bisnis bersama teman-teman segeng dan se-anjem (antar jemput becak)...

catatan keuangan

saya dulu masih rajin bikin tabel pengeluaran dan pemasukan. tapi makin lama makin sok sibuk ._. saya cuman mengandalkan nota dan catatan insidental kalau ada pengeluaran yang agak banyak. sisanya terlupakan *tutup muka* biasanya sekarang sih saya memastikan nggak ada hutang yang belum terlunasi dalam satu minggu. lalu memastikan tetap ada simpanan cash selain tabungan di bank. catatan keuangan untuk sementara hanya di buku jurnal harian aja dan itupun nggak yang rapi buanget, ya cuman coret-coretan buat totalan *kemudian menyesal kenapa kebanyakan belanja buku*

Bersih-bersih Finansial

Rasanya zaman sekarang hidup halal adalah suatu hal yang ideal. Sedangkan bagi sebagian orang, menjadi ideal itu hampir nggak mungkin karena hampir semua orang berada kondisi yang tidak ideal. Contohnya saja, RIBA. Sudah tahu sih itu ngeRI BAnget, tapi masih aja kita nggak bisa lepas karena alasan kebutuhan. Padahal kalau dipikir-pikir, kebutuhan kita itu sudah dicukupi oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Setiap orang sudah dicatat rezekinya masing-masing. Semestinya, kekhawatiran tentang rezeki itu sudah tidak perlu ada lagi. Namun, rupanya kepintaran manusia ini sudah seperti dua mata pedang, di satu sisi bisa membantu memudahkan urusan. Sedangkan di sisi lain, justru menjerumuskan manusia. Kecanggihan teknologi tidak mampu meredakan kekhawatiran akan kecukupan kebutuhan manusia, bahkan malah membuat kegalauan menjadi-jadi. Yah, apalagi sesuai dengan sifat manusia yang suka tergesa-gesa dan tidak pernah puas. Alhamdulillahnya, kita masih diberikan petunjuk lewat Rasulullah Shalla...

Ramah Lingkungan + hemat

Saya memulai untuk mengikuti jejak para zero wasters alias orang orang yang berusaha meminimalisir sampah dengan memakai barang yang dapat digunakan lebih dari sekali. Saya menghindari barang-barang sekali pakai seperti disposable menspad, tisu basah, dan botol plastik. Hidup di keluarga yang sangat menjunjung tinggi produktivitas aka kesibukan, membuat gaya hidup semakin menuntut untuk serba instan dan cepat. Sangat berkebalikan dengan saya yang ingin sekali hidup lebih lambat dan menikmati momen dengan ritme yang perlahan. Saya mencoba untuk merubah pola hidup dengan merefleksikan sebenarnya apa yang saya jalani selama ini berdampak bagi lingkungan. Saya melihat bahwa gaya hidup yang serba instan mendorong kita untuk berbelanja lebih sering. Sebab alasan praktis, kita sering mengambil jalur cepat dengan membeli fast food, gofood, dan take away supaya makan lebih praktis, tinggal bayar dan makan. Namun, kita lupa kalau ada konsekuensi dibaliknya yang mungkin terlihat remeh tapi berd...

Mengerem Gaya Hidup Konsumtif

Ternyata saya nggak bisa jauh-jauh dari konsep hidup yang simpel, tidak banyak ini-itu, dan sedikit. Ya termasuk sedikit teman, sedikit kesibukan, sedikit barang, tetapi hidup berkecukupan makna. Setahun dua tahun ke belakang, saya lebih banyak mempelajari referensi cara hidup sederhana. Di Facebook, saya mengikuti beberapa fanpage seperti "Simple Like That," "Becoming Unbusy" dan akun introvert yang kebanyakan tentang kenyamanan hidup sendiri. Saya juga jadi lebih sering menfollow akun instagram yang berfokus pada keluarga, lingkungan alam, homeschool, dan yang hijau-hijau (seperti akun hidroponik, aktivis lingkungan). Hehe ternyata saya masih punya banyak keinginan... Termasuk membuat simpel urusan keuangan dan manajemen barang-barang. Saya mencoba untuk mengerem pengeluaran dengan menata barang di rumah. Meninjau kembali sebenarnya apa yang saya lakukan terhadap barang yang saya miliki. Apa masih berfungsi? atau malah terabaikan? Saya jadi merasa bersalah meli...

Happiness Activity

Beberapa orang bingung untuk memilih hal apa yang ingin dipelajari hingga menjadi mahir atau setidaknya dapat menjadi kemampuan yang diandalkan. Nggak heran juga sih, sekarang ini makin banyak pilihan yang bisa kita ambil untuk kita ketahui di dunia nyata maupun dunia maya. Namun, kita perlu tahu bahwa ada hal yang lebih penting untuk diprioritaskan dan dipelajari lebih lanjut.  Beberapa langkah yang saya lakukan saat saya ingin menekuni sesuatu setidaknya ada tiga. Pertama saya mencoba untuk mencari tahu kesukaan saya dan seberapa kadar kesukaan saya terhadap suatu aktivitas tertentu. Saya coba bongkar-bongkar 'harta karun' yang saya punya di lemari. Kebanyakan adalah barang yang saya buat dengan tangan sendiri dan saking excited -nya saya simpan dalam jangka yang panjang. Saya pilah dan pilih barang mana yang masih berkesan dan memiliki happiness value buat saya. Sambil nostalgia saya coba ingat dan menata kembali barang-barang yang saya miliki di dalamnya. (Ceritanya ini ...

Mencari Diriku Sendiri

Tantangan 10 Hari Level 7 IIP ini sungguh membuat cukup baper :" karena masih nyambung dengan apa yang sedang saya galaukan beberapa waktu lalu hingga kini. Meskipun begitu, saya mencoba untuk meyakinkan diri bahwa inilah hal yang membuat mata saya berbinar saat mengerjakannya. Memotivasi orang lain dengan caraku sendiri. Beberapa tahun, saya sempat kebingungan untuk memilih jurusan yang akan saya targetkan sebagai tempat saya berkuliah S1. Impian menjadi dokter pun jadi sangat jauh dari kata realistis menimbang diriku saat itu yang terdistraksi dengan kesenangan berorganisasi. Nilai-nilai rapor yang sangat pas-pasan mengindikasikan bahwa saya harus bekerja sangat keras untuk dapat menuju ke target yang begitu tinggi. Saya memilih untuk mengambil pilihan alternatif, yaitu psikologi. Lupa sih tepatnya kenapa bisa kepikiran. Waktu itu saya sedang menggeluti suatu peran dimana saya lebih banyak dituntut memotivasi orang lain. Bahkan pernah terpikir ingin jadi motivator , lol. T...

Menilai diri dan orang lain

Pernah mendengar tentang standar ganda? Terkadang kita dengan mudahnya menilai orang lain salah karena kita merasa dia tidak berada di pihak kita. Hanya karena pilihan yang berbeda, kita menggeneralisasi penilaian kita pada orang lain berdasarkan perbedaan itu. Padahal, itu justru bisa merusak logika berpikir kita. Kita jadi mengandalkan standar ganda, kalau aku dan kelompokku benar apapun alasannya, kalau dia dan kelompoknya pasti salah, meskipun ada bagian benarnya. Pokoknya salah! Nah, ini yang membuat pikiran semakin tidak jernih memandang suatu hal. Kita perlu memperbaiki mindset diri kita untuk tidak salah berlogika. Mungkin kita masih ingat dengan soal logika berikut ini: A>B B>C A>C? (jika A maka B, jika B maka C. Nah, apakah berarti jika kondisi A maka terjadi C?) Masih bingung? Coba kita perhatikan contohnya saja. Jika Ibu memasak, maka Ayah senang. Jika Ayah senang, maka anak diajak jalan-jalan. Apakah jika Ibu memasak, maka anak diajak jalan-jalan? ...