Posts

Showing posts with the label #kuliahbunsayiip

Apresiasi

Bentuk penghargaan terhadap seseorang memang terkadang sulit diukur. Dan itulah seninya hidup. Kita terkadang berusaha menyenangkan orang lain dan berharap dibalas seperti itu juga. Namun, adakalanya apa yang menjadi ekspektasi tidak terwujud. Nah barangkali memang apresiasi itu tidak dibuat untuk memenuhi harapan yang persis sama seperti yang diinginkan. Tetapi justur apresiasi hadir untuk menjadi penyemangat, bonus, dan kejutan yang siap mewarnai kehidupan kita.

Lebih teliti

Tepat sepekan yang lalu saya agak kurang fokus sehingga berdampak pada performa saat bekerja atau belajar. Saya melakukan beberapa kesalahan sepele seperti menghitung skor sehingga saya harus beristirahat dulu sampai akhirnya fokus lagi. Ternyata memang kebutuhan diri seperti fisik dan mental tidak bisa diabaikan begitu saja. Sebab ketika sakit, konsentrasi berkurang dan malah jika dipaksa semakin memperburuk keadaan. Alhamdulillah setelah menyadari kekeliruan itu, saya menjadi lebih peduli dengan hak yang ada pada diri sendiri agar saya bisa membantu orang lain lebih maksimal.

Mengkroscek Data

Yang paling penting saat menjadi orang dewasa adalah bisa melek literasi guna mengajarkan literasi itu sendiri kepada generasi penerusnya. Terkadang masih kita lihat ada kekeliruan di media sosial yang menyajikan berbagai informasi yang begitu deras. Tetapi kita tidak cukup kritis untuk membedakannya. Informasi yang menarik seperti kesehatan dan topik yang sedang hangat saat itu justru semakin membingungkan orang-orang. Agar tidak terjadi pada kita, kita perlu meneliti lagi dengan logika yang kita asah setiap hari. Dengan begitu, kita tidak mudah termakan omongan atau informasi yang belum tentu benar.

Zero waste

Kalau mau dihitung-hitung, ternyata hidup yang tidak memegang value zerowaste cukup mahal. Justru berkebalikan dengan yang beranggapan zerowaste itu ribet dan mahal. Apa yang saya alami beberapa tahun belakangan membuktikan bahwa saya jadi lebih hemat. Meskipun tidak banyak perubahan yang saya lakukan, tetapi saya yakin kalau banyak yang melakukannya pasti akan berguna. Saya sudah sekitar 4 tahun ini merubah kebiasaan menggunakan pembalut plastik menjadi pembalut kain dan 1 tahun ini beralih menggunakan sikat gigi bambu. Selain itu, dalam beberapa kesempatan saya menolak plastik dan memilih menggunakan kantong sendiri. Saya juga membawa sedotan stainless kemana-mana. Tujuannya agar saya selalu ingat bahwa jajan pun tetap harus zerowaste. Hasilnya saya jadi lebih bahagia karena mengurangi sampah dan kantong pun aman tidak jebol :)

Berdaya Bersama-sama

Saya habis menonton sebuah video menarik, yakni sebuah wawancara dengan sepasang suami istri yang begitu kritis dan cukup idealis. Mereka mencoba untuk menerapkan nilai-nilai yang mereka dapatkan saat pernah tinggal di belahan dunia utara sana. Mereka bercocok tanam alias berkebun di rumahnya sendiri. Bahkan, hasil panennya ya mereka makan sendiri. Ketik berkunjung ke tetangga atau bertemu dengan rekan mereka terbiasa bertukar oleh-oleh, saling memberikan hasil panen mereka. Nah di sini saya berpikir, betapa guyub rasanya dan hemat (tentu saja) saat kita bisa punya kebun sendiri. Lalu menciptakan budaya saling memberi. Indah sekali. Semoga saja ya Indonesia bisa lebih fokus pada kebersamaan dan kolaborasi supaya kita tidak lupa bahwa ada budaya yang tidak hanya mementingkan untung untuk dirinya sendiri tapi untuk bersama.

Mengapa harus Menabung

Kemarin saya habis bermain dengan keponakan saya dari sepupu. Anaknya sangat ceria dan sedang aktif mengasah motorik halus dan kasarnya. Ia pun memiliki mainan yang cukup banyak. Namun, saat itu dia senang asyik sekali memasukkan uang receh ke celengan. Uang koin yang ada cukup banyak sehingga ia cukup betah berlama-lama memainkannya. Sebenarnya sangat sederhana. Tetapi menurut saya, hal ini penting untuk menggambarkan bahwa uang sebaiknya ditabung untuk hal yang lebih berguna. Menabung pun bisa dimulai sejak kecil, sejak anak mengenal uang dan nilanya.

Menyeleksi Barang

Beberapa hari ini saya berpikir banyak tentang barang-barang di rumah yang menumpuk. Saya pikir, sepertinya akan lebih baik jika saya memilah dan memilih di antara buku-buku saya yang mana yang bisa saya kurangi dari lemari. Lalu saya berencana untuk menjual murah beberapa buku yang berpotensi tidak terbaca dalam beberapa waktu ke depan. Semoga saja saya bisa menentukan dengan segera dan menata kembali dengan hati riang gembira.

Estimasi Keberangkatan

Belajar matematika dalam kehidupan memang tidak sebatas angka. Terkadang kita masih kesulitan untuk memperkirakan persiapan apa dan seberapa lama dalam menghadapi sesuatu. Contoh simpelnya saja saat kita mau berangkat ke bandara atau stasiun kereta. Beberapa waktu lalu, saya pergi ke Solo dengan kereta. Saya yang pada saat itu sedang menyiapkan perencanaan ke Solo, teringat kalau masih ada agenda lain yang harus dilakukan di hari yang sama dengan keberangkatan. Sehingga, saya harus memesan tiket kereta sendiri yang terpisah dengan jadwal rombongan teman-teman saya. Saya juga harus memastikan jika masih ada jarak waktu yang pas untuk perjalanan dari lokasi ke stasiun. Nah, estimasi yang saya lakukan alhamdulillah cukup meski agak mepet bikin deg-degan tapi sampai dengan aman dan tentram :") Paling tidak, saya berhasil manage waktu untuk mendatangi dua kondangan yang cukup jauh itu.. So far, i want to thank myself for being survived those times. Haha

Bacaan adalah Teman

Apa yang kita baca itulah yang akan menjadi bagian dari diri kita. Setidaknya itu yang saya percaya hingga saat ini. Makanya saya mulai belajar untuk meminimalisir membaca hal-hal yang unfaedah. Apalagi yang isinya rasan-rasan ga penting. Uninstall IG. Twitter OFF. Facebook juga udah ga ada di HP lagi. Berteman lagi sama yang namanya buku setelah beberapa saat menyadari terlalu banyak megang HP. Huft. Memang godaan itu nyata :( Harus segera bertindak. Untuk apa coba beli buku banyak tapi dibiarin ga dibaca? :((( Memilih buku bacaan hampir kayak milih teman, semua terasa baguuuus. Mau semua bukunyaa :( tapi harus dipilih yang paling utama diakrabi. Yang paling bermanfaat untuk umat. Yang paling bisa ngasih pengaruh positif di hidup kita. Paling bisa menambah kebaikan berlipat-lipat.

Short Review: Eating Clean

Image
Buku yang ditulis oleh Inge Tumiwa ini cukup menarik, simpel dan related dengan kebutuhan saat ini. Saya yang mulai menyadari usia biologis tubuh jadi pingin hidup lebih berkesadaran. Tidak bisa sembarangan lagi dalam mengkonsumsi makanan. Mulai membaca-baca lagi tentang gizi yang diperlukan tubuh juga menurunkan keinginan jajan yang berlebihan. Penyampaiannya cukup sistematis, dimulai dari ragamnya makanan yang dikonsumsi manusia hingga apa sebenarnya yang manusia butuhkan untuk memenuhi gizi di dalam tubuh. Kalau kita pikir lagi, mungkin memang kebanyakan dari kita makan hanya untuk memuaskan nafsu lidah yang ingin merasakan ini itu. Padahal justru kesenangan yang sementara itu menyimpan bahaya. Lagi-lagi saya merasa tertohok dengan keinginan manusia untuk mengolah makanan menjadi berupa-rupa, enak dan praktis. Oh iya, tidak lupa, instagrammable. Hahaha. Jadinya ya kadang kita langsung beli saja berbagai makanan cepat saji dan yang instan lainnya tanpa berpikir lagi soal keseha...

Reading Tracker

Image
Akhirnya saya membuat reading tracker juga. Hahaha seperti biasa, segala yang pertama kali selalu bikin exciting. Cukup sederhana karena saya tidak ingin yang terlalu ribet saat menggunakannya. Reading tracker ini bisa buat membaca buku yang cukup tebal meskipun tidak disarankan kalau masih ngos-ngosan cari waktu buat membacanya. Lebih baik cari buku yang agak tipis tetapi bisa menambah value yang dibutuhkan saat ini.

Spirit Membaca

Rencananya saya membuat reader tracker untuk setidaknya membuatku sedikit insecure apabila belum membaca hari itu. Yah, walaupun beberapa hal telah kulakukan untuk mengembalikan semangat membacaku yang kadang surut seperti dengan membeli buku baru *yeah, i know, sundoku* dan juga meletakkan buku dimana-mana. Sebab, sebenarnya saya sangat senang bisa membaca dan mengetahui hal-hal baru. Mungkin keinginan dan niat baik saja tidak cukup. Jadi, saya mencoba untuk membuat strategi yang lebih ciamik dalam mengontrol diri untuk berbuat baik lebih banyak, salah satunya ya membaca. Seharusnya saya selalu excited, sangat menanti-nanti dan tidak pernah puas membaca buku. Tetapi ada saat dimana ketika ditarget saya malah jadi bosan, malas, dan sebagainya. Ada apa ini? Saya adalah penyuka buku non-fiksi sejak saya kecil. Saya tidak terlalu suka cerita fiksi sampai pada akhirnya saya bertemu dengan Laskar Pelangi. Oh, ya. Saya ingat pertama kali saya puas membaca fiksi pertama kali saat saya mas...

Seven: Podcast

Makin ke sini, sarana belajar makin canggih aja. Podcast mulai jadi pengisi waktu yang nyaman di saat ingin belajar tetapi nggak mau yang berat-berat. di Spotify, saya menemukan beberapa podcast menarik tentang pengembangan diri. Ada juga podcast yang isinya refleksi aja dan itu pun tetap bikin kita ke- charged . Saat saya mendengarkan podcast Story of Ubi, saya merasakan kehangatan dari setiap bahasan ringan yang disajikan. Terkadang saya gemas sendiri karena mendengarkan suara Zayka yang lucu dan chatty . Benar-benar menggugah mood saya yang awalnya bete. Lalu, tema yang dibawakan Ayah dan Ibu Ubi juga pas sih buat saya yang memasuki masa quarter life crisis kata orang-orang. Meskipun ada sedikit catatan kalau terkadang bahasannya nylimur kemana-mana. Hehe Tetapi so far, saya seneng banget dengan adanya sarana podcast yang sebenernya mirip sih sama audiobook tetapi ini lebih seperti versi rekamannya radio.

Six: Konseptor

Sejak saya SMP saya suka sekali menulis humor atau cerita rekaan dan suasana di kelas. Terkadang saya mencoba berkreasi dengan menulis di buku binder atau di power point saat waktunya pelajaran komputer. Saya senang sekali ketika saya bisa menyalurkan berbagai ide pikiran yang aneh dan liar saya ke dalam tulisan. Terkadang secara random saya menceritakan tentang alien atau nama mikroba yang sedang berperang atau teman-teman saya yang sedang berperan dalam acara talkshow. Saya menikmati keanehan itu sampai akhirnya saya lulus SMP. Di SMA, rasanya saya jadi lebih serius menjalani hidup, diajarkan cara membuat mimpi-mimpi. Masih teringat saya di kala menonton film tentang 100 mimpi yang dibuat alumni IPB yang berhasil menggapai impian sekolah di Jepang. Impianku banget tuh bisa pergi ke Jepang :") Di situlah saya mulai menulis hal-hal semacam impian dan kisah inspiratif orang-orang. Tak luput juga saya menulis kutipan-kutipan orang-orang terkenal ataupun kekata inspiratif yang kelu...

Five: Dongeng

Saya sedang senang mempelajari dongeng. Ternyata, banyak sekali pelajaran berharga yang saya dapatkan dari perjalanan saya mulai dari awal mengenal dongeng. Masa kecil saya tidak luput dari dongeng dan buku cerita. Setiap hari, orangtua saya tidak pernah absen mendongengi saya. Bahkan kalau saya ikut ibu ke pasar, pasti ujungnya beli buku juga buat dibaca. Bapak saya juga menyanyikan lirik lagu di dalam cerita si kue jahe yang diaransemen sendiri alias ngarang. Hehe Ketika sudah sebesar sekarang, rasanya kurang cocok ya untuk mendengarkan dongeng. Tetapi ternyata saya masih doyan banget buat menyimak dongeng. Apalagi kalau dongengnya dituturkan oleh para pendongeng yang ekspresif dan kreatif menggunakan sumber daya yang terbatas. Saya jadi teringat betapa kayanya kosakata anak-anak karena banyak menyaksikan dongeng dan terhibur karenanya. Sudah begitu, bisa belajar sains dan akhlak juga dari dongeng. Ah bahagia sekali. Mendengarkan dongeng saja sudah membuatku ketagihan untuk menel...

Four: Belajar Bahasa

Sampai saat ini, saya merasa bahasa saya gampang terwarnai oleh tempat dimana saya tinggal. Meskipun hanya beberapa hari atau minggu, saya jadi paham apa yang dibicarakan orang-orang di desa tempat saya pulang kampung tiap lebaran, Situbondo. Bahasa Madura jelas cukup jauh berbeda dibandingkan bahasa Jawa dan Sunda. Tetapi yang paling penting buat saya adalah ketika saya mendengarkan mereka berbicara, saya jadi belajar tentang budaya yang unik dan bagaimana mereka membuat sebuah kejadian jadi bahan bercandaan. Kepolosan khas daerah masing-masing yang membuat saya berpikir jika kecerdasan berbahasa sebenarnya dimiliki oleh mereka yang pandai melihat situasi dan melontarkan guyonan tentang itu. Bercanda yang biasanya ditertawakan terdengar sederhana tetapi maknanya dalam. Di situ saya merasa bangga mempunyai keluarga multikultural dan juga tinggal di Indonesia yang luar biasa bervariasi bahasanya.

Three: Visual yang Memukau

Sebagai manusia milenial, saya merasa tidak bisa lepas dari pengaruh gadget dalam belajar. Saya suka mengikuti tutorial membuat sesuatu misalnya, saat saya merajut dari video di YouTube. Gambarnya jelas dan pastinya bisa di-pause sejenak dan kemudahan untuk mencari tutorial yang paling simpel dan mudah diikuti. Ketika saya menyiapkan ujian SNMPTN Tulis pun saya masih menggunakan video selain membaca buku seperti biasa. Zenius waktu itu tidak begitu populer, tetapi saya beruntung punya saudara sepupu yang cukup mampu membeli koleksi CD pembelajaran Zenius. Padahal mahal banget ituu :' Nah, sebenarnya yang paling penting buat saya ketika belajar menggunakan media digital adalah visualnya yang oke. Tampilan yang ruwet bisa banget mempengaruhi mood saya belajar. Makanya saya suka bersih2 folder, desktop dari hal-hal yang tidak berguna atau mengganggu pemandangan. Lalu saya juga lebih suka melihat warna-warna yang lembut ataupun monokrom supaya lebih fokus pada apa yang dipelajari. ...

Two: Mengenali Gaya Belajar

Kalau saya di kelas, hal yang membuat saya tidak mengantuk adalah diskusi yang hidup dan demonstrasi suatu materi. Intinya sih selama masih interaktif alias saya terlibat di dalamnya, saya suka. Biasanya kalau sudah begitu, saya jadi teringat terus materinya. Jadi bisa dibilang saya kombinasi antara ketiga gaya belajar: visual, audio, kinestetik. Hanya saja, pola pendidikan yang saya terima selama ini memang lebih ke audio, dimana kita lebih banyak mendengarkan apa yang dikatakan guru, menjawab pertanyaan, membacakan sesuatu di depan kelas dan ya, menghapal materi. Pola pendidikan masa lampau saya rasakan ketika sekolah dasar hingga kuliah. Tetapi saya hanya dapat mengingat kurang dari 30% materi yang pernah diajarkan TT Saya rasa hal ini terjadi karena saya tidak bisa merasakan emosi dan tidak menemukan makna dari apa yang saya pelajari. Jadi hmm kemungkinan sih saya perlu menelisik lebih jauh gaya belajar yang cocok dengan saya meskipun tidak untuk semua konteks pembelajaran.

One: Improve Everyday

Saat belajar, yang ada di pikiran saya selama ini adalah bagaimana bisa menyelesaikan suatu persoalan dengan benar. Dalam beberapa kali kesempatan belajar, saya cenderung memaksakan diri untuk menguasai materi sekaligus dan lupa hakikat belajar yang sesungguhnya. Belum lagi saya tidak mengenal lebih dalam gaya belajar saya sendiri. Sampai pada akhirnya saya disadarkan bahwa belajar itu bukan menjadi orang yang selalu benar dan tidak pernah salah. Justru ketika kita salah, maka kita jadi banyak belajar tidak salah. We learn to improve ourself everyday.

Hari 6: Beberes

Saya suka banget kamar yang rapi, bawaannya hepi dan berpikir jadi lebih lancar. Sepertinya keyakinan seperti ini sudah mengalir dari Bapak dan Ibu hingga kakak dan adik saya. Saking suka rapinya, ibu saya kalau menjemur baju, arah gantungannya harus sama plek, ke kiri ya ke kiri semua. Handuk sudah ada kepemilikan berdasarkan warnanya. Gelas untuk minum masing-masing pun sudah ditata setiap pagi dan dipakai bolak-balik sampai paginya lagi. Terus jaman dulu banget, setiap buku di rumah ada nomornya. Ngeri kali lah kalau dibayangin. Tetapi sekarang nggak begitu banget sih. Udah lebih longgar prinsipnya. Nah, setelah saya mengenal seni beberes rumah, saya jadi lebih suka beberes buku dan kertas-kertas. Terasa sekali bahwa buku saya itu kebanyakan :( Terus juga belum ada kategori buku yang memudahkan untuk membaca. Apalagi hobi saya membaca buku itu tidak sampai habis sudah ganti buku yang lain lagi. Akhirnya, saya coba bagi dua kategori buku saja, buku yang sering atau lagi dibaca...