Posts

Showing posts with the label KuliahBunsayIIP

Klasifikasi Barang

Saat beberes rumah, saya menyadari beberapa hal. Diantaranya, ibu saya selalu membiasakan meletakkan barang di tempat yang sama. Agar nanti ketika mencari mudah ditemukan. Selain itu, barang-barang perlu untuk dikelompokkan berdasarkan jenisnya. Misalnya lemari untuk buku, lemari untuk pakaian, lemari untuk souvenir dan pernak-pernik, dan lain sebagainya. Tempat penyimpanan yang jelas peruntukannya akan sangat memudahkan pekerjaan di rumah. Sehingga semuanya bisa dilakukan lebih efisien.

Memasak

Dalam kegiatan sehari-hari pun kita dihadapkan dengan problem solving menggunakan kaidah matematika. Misalnya ketika kita memasak. Mulai dari menyiapkan bahan, lalu menakar dan mengikuti aturan resep. Kemudian memperkirakan waktu yang digunakan untuk merebus atau menggoreng. Terkadang kita pun kesulitan melakukannya. Tetapi saat sudah memiliki takaran yang pas, semua jadi lebih mudah dan tinggal dibiasakan saja.

The Last Samurai

Oh iya, berjuang tidak pernah sebercanda itu. Kadang aku tidak memaknainya dengan paripurna. Aku cuman ingin menyelesaikan challenge yang kuiyakan. Itu saja. Menuliskan apa yang ada di dalam kepala sambil berusaha mengingat hal yang relevan dengan apa yang dituliskan. Tidak mudah. Iya. Menulis review buku mungkin akan menjadi solusi ketika tidak ada ide lagi untuk menulis. Sebab, pikiran yang penuh terkadang justru buntu, tidak bisa mengeluarkan apapun. Jadi berjuanglah meskipun ini berat. Kamu bisa memulai dari mana saja. Yakin sajalah. Semua akan dipermudah.

Dongeng vs Kisah Nyata

Hahaha berani banget kamu mau bahas itu Meutiaaaaaa :/ Ah ndak juga, sih. Aku cuman ingin memberikan sikapku terhadap dua cerita yang selalu ada dalam hidupku. Cerita nyata dan cerita imajinasi telah mewarnai hidupku hingga saat ini. Tidak ada yang patut dipersalahkan. Semua bisa membawa nilai kebaikan asalkan dengan tidak menyalahkan satu sama lain. Aku capek lihat dan dengarnya :( Padahal, apa salahnya membawa imajinasi anak-anak ke dalam penyampaian nilai kebaikan? Apa salahnya menceritakan sejarah dan seluk beluknya kepada anak-anak yang antusias? Bukankah kita sedang mengajarkan sebuah nilai yang mulia? Tentang toleransi, hidup damai, dan kemuliaan. Kenapa tidak bergandengan tangan? Yah begitulah. Semoga nanti ada pencerahan. Pada akhirnya semua harus melakukan refleksi atas nilai yang sedang diperjuangkan.

Bacaan Bapakku Jadi Profesiku

Apa hayo? Hahaha iya, psikologi. Bapakku dulu susah cari temen dan adaptasi dengan tempat kerja yang baru. Habis gitu, beliau dapat petunjuk untuk membeli buku-buku psikologi tentang pengembangan diri gitu. Yah pasti semua kenal lah ya nama Maxwell, Corey, dan sebagainya. Demi mewujudkan keluarga harmonis dan anak-anak yang tumbuh sehat, Bapakku juga belajar dari majalah langganan berjudul Ayah Bunda. Yang kuingat, ada isi bonusnya, komik atau cerita buat anak-anak, ya buat aku :)) Kakakku tidak terlalu suka membaca cerita anak itu, mungkin karena sudah besar saat itu. Yang pasti, saya jadi suka membaca komik dan buku cerita anak. Haha skip. Jadi bapakku itu sampai bener-bener belajar tentang psikologi, terbukti dari bukunya yang ada coret-coretannya. Nah, malu ga tuh aku kalau ga sampai gitu belajarnya :( Sekarang sih aku masih tertarik membaca apa yang dibaca bapakku, meski lebih seringnya dipaksain buat baca juga sama bapakku :)) It's okay. Emang akunya sok ga mau pad...

Kutipan Buku

Siapa coba yang ga pernah mengutip kata-kata keren dari buku? Hal yang menyenangkan dari membaca buku adalah ketika kita menemukan kata-kata yang kita banget. Related dengan hidup kita. Magic words. Begitu menohok hingga ke relung hati. seperti kata seorang tokoh muslimah yang menohokku saat ini: Why do we get hopeless and give up? Often it is for one simple reason: because we are harder on ourselves than God is on us. Yasmin Mogahed kata-kata sederhana bahkan bikin kita baper karena tepat sekali dengan kondisi hati kita yang memerlukan oase di tengah kegersangan jiwa. Dulu sekali, saya suka menuliskan kutipan kata baik dari buku maupun orang lain yang bicara secara langsung untuk menambah koleksi semangat saya di kala futur. Sampai akhirnya saya tersibukkan oleh kegiatan lain yang lebih 'sosial' dan menuntut untuk dikerjakan. Haha *classic Yap, kutipan kadang terasa membosankan, bahkan menyakitkan. Bergantung kondisi hati kita saat itu. Tetapi yang jelas, ...

List Buku Favoritku

Cara cepat meningkatkan semangat membaca adalah membuat daftar judul buku yang paling disenangi :D Nah ini dia buku-buku favoritkuu: Karena susah memilih antara fiksi dan nonfiksi, jadi dua-duanya sajalah ahaha 1. Laskar Pelangi 2. Negeri 5 Menara 3. Edensor 4. Madre 5. Api Tauhid 1. Mencari Ketenangan di Tengah Kesibukan 2. Eating Clean 3. Lapis-lapis Keberkahan 4. Happy Little Soul 5. Happiness Project intinya aku suka yang hepi-hepi :D

Membaca Cepat

Saya punya kebiasaan membaca beberapa buku dalam rentang waktu tertentu. Jadi, kalau ditanya sudah selesai baca berapa buku itu malah kesulitan menjawabnya XD Saya pernah mencoba fokus membaca satu buku dalam satu waktu. Rasanya seperti dipaksa... Nggak enak banget. Padahal seharusnya membaca buku itu nikmat abis. Tapi rasa-rasanya pendidikan literasi sekarang cenderung maksain ngabisin buku gitu ga sih.. Jadi sedih :( Dulu banget pas masuk Ind*sat School of Public Speaking, saya bikin materi tentang membaca. Sok sokan ceritanya bisa baca cepet dan efektif. Padahal ya ndak mesti cepet sih, kalau bacaan fiksi, biasanya sambil membayangkan dan kalau perlu diulang lagi tuh bacaannya biar lebih meresap (Lol). Lalu saya berpikir, perlukah membaca cepat? Kalau dijawab langsung sih nggak seru ya. Hehe Saya mencoba lagi bereksperimen dengan diri saya sendiri supaya lebih cinta dengan buku bacaan. Supaya lebih memaknai proses belajar dari media membaca. Sampai pada akhirnya saya membiarka...

Hari 10: It's okay not to be okay

Pikiran saya sering berlari ke masa depan atau ke masa lalu. Pada saat yang sama, saya masih ingin menikmati masa kini yang sayang banget kalau terlewatkan. Dalam beberapa hal, saya bisa merasakan sesuatu seperti dejavu dengan sangat intens dan logikanya malah nggak jalan. Tapi di hal yang teoritis, saya bakal berpikir jauh tentang bagaimana jika begini dan logikanya akan seperti apa. Kemudian saat pikiran kembali ke saat sekarang, yah ternyata nggak relevan. Somehow, it makes me anxious. Akhir-akhir ini, saya mencoba menyelami diri sendiri dan mengajak bicara yang ada di dalam sana. Sebenarnya apa yang kamu rasakan sekarang, coba deh diutarakan. Jangan menghindar, katakan saja, lalu coba sandingkan dengan suara dari pikiranmu... Semakin ke sini, semakin terlatih. Saya berusaha untuk belajar mengenali diri sendiri untuk nantinya saya bisa bangkit ketika saya menghadapi kesulitan-kesulitan hidup dan menjadi agen kebaikan untuk mengajak orang lain bersama-sama mengalaminya.

Hari 9: Manajer diri sendiri

Mengatur diri sendiri itu penting banget supaya nantinya mudah beradaptasi dengan keadaan. Saat ini saya sedang berusaha mengatur waktu untuk menjalankan kuliah S2, mengambil project bareng kakak tingkat, terlibat kegiatan komunitas pelajar, berjejaring bersama kumpul dongeng buat persiapan Festival Dongeng, hingga kuliah online seperti IIP. Ya udah sih diterabas aja semuaa haha Sampai akhirnya sempat drop juga, batuk sampai dua atau tiga minggu gitu. Tapi ya sempat diobati pakai antibiotik juga eh masih batuk-batuk juga. Akhirnya dibiarkan sampai lupa batuknya.. Pelajarannya, saat saya tahu workload sedang banyak, makan saya juga jadi banyak, tidur juga nggak boleh kelewat. Sudah nggak kenal begadang sih, karena tahu takaran kerja berat dan ketahanan tubuhnya nggak bisa seperti dulu. Sekarang berusaha lebih enjoy dan realistis menghadapi tantangan kehidupan XD

Hari 8: Mengelola Uang

Tidak mudah mengurus soal uang. Banyak prinsip di keluarga yang agak longgar soal uang. Sebab, ya selama masih bisa terbeli dan butuh ya gapapa. Atau ya kalau itu keinginan yang tidak selalu dituruti ya nggakpapa juga. Meskipun begitu, ibu saya strict banget soal jurnal keuangan. Semua uang yang ada itu harus jelas darimana dan peruntukannya apa. Pernah suatu ketika jadi konflik gegara saya lupa mencatat pemasukan dan pengeluaran. Jadi ribet plus ribut! Mulailah saya pakai monefy alias aplikasi keuangan praktis yang ada di Android. Meskipun belum rajin, setidaknya sudah ada beberapa catatan yang mulai rapi. Tetapi dari ibu saya juga, saya jadi belajar bagaimana ibu begitu teliti soal uang, apalagi uang orang lain dan dana sosial. Beuh, ati-ati banget. Salah ngitung sebaris aja duuh urusannya bisa bikin melekan sampai pagi. Saya belajar banyak soal menjadi orang yang amanah dalam menjaga kepercayaan terutama hal yang sensitif bagi seluruh umat: duit!

Hari 7: Beberes Baju

Soal baju, saya suka banget menyingkirkan baju dari lemari :)) Nggak suka ngelihat lemari yang terlalu penuh sampai sulit untuk mengambil baju. Apalagi kalau warna-warni, hmm makin bingung kalau pas lagi buru-buru ganti baju. Untungnya setelah mengenal seni beberes rumah (lagi), saya jadi tahu kalau baju yang nggak bikin joy itu memang harus disingkirkan. Terus baju yang jarang dipakai tapi masih perlu atau disukai ya gapapa disimpan, tapi ya tetep jangan semuanya sih, harus dipilah dan dipilih lagi sampai baju yang dipunya bener-bener dibutuhin.  Saya sudah tidak menggunakan laci sih, jadi semakin sedikit wadahnya dan isinya pun juga harus dikurangi. Berhubung saya belum bisa bikin sekat-sekat buat menata baju ala Konmari, saya cuman menatanya sesuai dengan kategorinya saja. Lalu, untuk pelengkap baju seperti jilbab, dalaman jilbab, dan kaos kaki, saya berikan tempat tersendiri. Semua baju digantung kecuali yang tidak mudah kusut seperti kaos, hanya dilipat seperti biasa. Keu...

Hari 6: Beberes

Saya suka banget kamar yang rapi, bawaannya hepi dan berpikir jadi lebih lancar. Sepertinya keyakinan seperti ini sudah mengalir dari Bapak dan Ibu hingga kakak dan adik saya. Saking suka rapinya, ibu saya kalau menjemur baju, arah gantungannya harus sama plek, ke kiri ya ke kiri semua. Handuk sudah ada kepemilikan berdasarkan warnanya. Gelas untuk minum masing-masing pun sudah ditata setiap pagi dan dipakai bolak-balik sampai paginya lagi. Terus jaman dulu banget, setiap buku di rumah ada nomornya. Ngeri kali lah kalau dibayangin. Tetapi sekarang nggak begitu banget sih. Udah lebih longgar prinsipnya. Nah, setelah saya mengenal seni beberes rumah, saya jadi lebih suka beberes buku dan kertas-kertas. Terasa sekali bahwa buku saya itu kebanyakan :( Terus juga belum ada kategori buku yang memudahkan untuk membaca. Apalagi hobi saya membaca buku itu tidak sampai habis sudah ganti buku yang lain lagi. Akhirnya, saya coba bagi dua kategori buku saja, buku yang sering atau lagi dibaca...

Hari 5: Masak

Sebagai orang yang suka eksperimen, saya jelas tertarik untuk memasak sesuatu. Mulai dari masak yang sederhana seperti dadar yang bisa dikreasikan macem-macem, hingga eskrim dan kue yang aneh-aneh. Namun, rupanya ibu saya kurang suka kalau saya kerja di dapur, lebih suka liat saya ngetik-ngetik sampe nggetu terus berhasil lulus ujian. Haha entahlah rasanya wajahnya lebih sumringah gitu. Tetapi karena saya seperti noda di baju alias bandel, saya tetap berusaha mencoba memasak beberapa makanan yang saya doyan. *yes, i am a picky eater. Tentu saja masaknya sering pas ga ada ibu biar kalau berantakan ga bikin kesel.. Trus kalau hasilnya gagal ya udah dimaem sendiri. Beberapa waktu lalu saya mencoba membuat garlic bread dan sego njamoer, alhamdulillah gampang bener :)) terus nyoba bikin makanan untuk dibawa jadi bekal ke kampus: ca sawi dan semur daging. Duh, ternyata enak banget kalau bisa mbekal dan nggak gofood. Hemat! Kapan-kapan harus bikin sesuatu lagi dan tidak boleh mager hehe

Hari 4: Sarapan Kata

Setahuku, masa kecil berlalu dengan sangat indah. Meu kecil yang tak takut pada apapun... kecuali kecoa. Berani memutuskan akan kemana, naik apa, berteman dengan siapa, mengajak berantem siapa, bernyanyi dan mengobrol dengan tamu ibu-bapak. Entah apa yang terjadi, Meu kecil tumbuh menjadi anak yang 'baik', tidak neko-neko, pintar karena masuk sepuluh besar.... dan ya, yang bermimpi seperti insidious. Cupu tetapi membanggakan. Ah iya, ada yang sama sih, dari kecil memang suka bertanya dan merepotkan sekali. Pikirannya susah dihentikan. Sampai akhirnya sudah sebesar sekarang, masih saja merepotkan. Setelah menyadarinya, saya jadi lebih peduli dengan apa yang saya ucapkan atau lakukan kepada keluarga. Mulai mengurangi porsi bertanya yang merepotkan dan menambah porsi komentar yang menyenangkan. Seperti yang terjadi di pagi kemarin, saat saya sarapan, Bapak menunjukkan video tentang pemandangan alam lengkap dengan bunyi gemericik air terjunnya. Sebagai anak yang tahu diri, sa...

Hari 3: Shopper

Saya itu sesungguhnya tidak suka belanja. Kalau ke mall sukanya makan sama nonton aja, tapi kalau belanja baju.. Waduh, langsung refleks kaki pegel2. Tapi kalau belanja buku sih beda lagi.. hehe Nah, kali kemarin saya akhirnya nyoba untuk go green sekalian belanja buah-buahan buat stok di rumah. Deket sih tempatnya, di sebelahnya pecel Tulungagung (manatuuh haha) Pokoknya lebih deket daripada jalan dari Jank-jank ke gedung fakultas. Tapi mungkin agak keburu jadilah naik sepeda motor berbekal tas bekas goodie bag wisuda. Sampai di sana, saya beli pecel dulu dong ya buat sarapan dilanjut beli buahnya. Pas lagi liat-liat buah, disapa dong sama Bapaknya yang jual, "wah, ibu mana?" pasti nanyain Ibu karena yang biasa belanja Ibu. "oh lagi di rumah lagi masak.." dijawab aja asal cepet belanjanya. Terus udah sat-set milih buah, eh ngantri dong bayarnya di Ibu penjual yang ada di dalam toko. Hmm... hmm nunggu agak lama, *hmm.. hmm x 1 jam udah kayak Nisa Sabyan Ya ud...

Hari 2: Tea time

Sudah jadi kebiasaan di keluarga, setiap pagi selalu minum teh dulu bahkan sebelum makan. Jadi, ritual setelah bangun, subuhan dan lain-lain adalah bikin teh. Biasanya sih ibu yang bikin karena saya masih pingin lanjutin ngaji dulu baru keluar kamar. Nah kemarin, dicoba atur waktunya supaya bisa duluan bikin teh. Yah mungkin keliatannya cuman gitu doang sih.. tapi gapapa lah ya lumayan. Saya udah mulai berdamai dengan ekspektasi supaya nggak 'ndakik2.' Nah setelah itu, ternyata emang bener apa kata iklan teh yang lagi pailit itu, enaknya ngobrol sambil ngeteh. Kami pun segera menghabiskan teh dan dilanjut sarapan sambil nonton TV. *katanya ga boleh tapi ya apa boleh buat lah ya, ibuku ga tahan hidup tanpa TV --" Mungkin cuman bentar banget waktu pagi itu, tetapi berarti banget karena kami mulai merasa waktu untuk mengobrol semakin sedikit. Entah kenapa makin kesini makin pada sibuk semua.... *melankoli Yah begitulah hari kedua. Semoga esoknya lebih baik :)

Kreatif dalam Syukur

Selama ini kita mungkin sudah terbiasa dengan program yang membuat kita menjalani rutinitas yang biasa. Sampai akhirnya pada satu titik merasa jenuh. Berarti sudah waktunya untuk mencoba cara baru, sudut pandang baru atau yang berbeda dari biasanya. Setelah melakukan ativitas rutin scrolling Instagram (membunuh waktu yang sangat tidak efektif :( ) saya memutuskan untuk mencoba merutinkan jurnal syukur yang dulu sempat menjadi tugas seminar. Awalnya saya abaikan begitu saja karena tidak yakin akan membuat saya berubah. Tapi akhirnya setelah membaca kisah-kisah heroik orang-orang yang mengalahkan 'dirinya' sendiri, saya akhirnya mau juga. Saya coba dengan hal yang sederhana seperti memikirkan apa yang membuat saya masih survive saat ini, atau hal positif apa yang terjadi di hari ini. Saya coba lagi dengan cara lain, menanyakan kepada orang lain apa yang membuat mereka senang atau bersyukur. Ternyata itu juga efektif menularkan rasa syukur kepada saya. Rasanya jadi ikut bahagi...

Memulai Kreativitas

Sudah lama saya merasa jauh dari kreasi-kreasi. Rasanya seperti menjalani saja yang sudah ada. Tidak ada hal yang menggugah saya untuk kembali membuat sesuatu. Kesempatan ini mungkin memang datang tepat pada waktunya. Kemarin, teman saya memberikan hadiah berupa benang rajut dan hakpen. Padahal saya udah lupa semua tuh cara membuat rajutan :') Hehehe sebenarnya tantangan kali ini lebih daripada membuat prakarya. Tantangan yang dihadapi keluarga untuk membuat bonding yang lebih rekat. Hmm, kira-kira apa ya yang bisa dilakukan? Saya mencoba membaca-baca buku lagi untuk membiasakan diri mencari inspirasi dari sumber yang positif dan jelas (no hoax) bukan sekadar opini. Saya juga belajar lagi memahami hikmah dari kisah-kisah yang nyata maupun fiksi untuk menajamkan kembali kepekaan berbahasa. Sampai pada akhirnya saya menemukan bahwa kita (saya kali ya) harus belajar lagi untuk mengelola pikiran-pikiran positif untuk menangkal virus-virus bisikan negatif yang destruktif. Saya men...