Posts

Showing posts with the label Renungan

Welcome to My Personal Space!

Self disclosure. Di akhir semester lalu, saya menyadari bahwa banyak hal yang mampu diungkapkan seseorang bahkan yang kepribadiannya paling introvert sekalipun. Saya merasa semester kemarin adalah semester paling berkesan di bagian learning of self-disclosure -nya. Sebab, saya seakan-akan menjelma menjadi orang yang mudah mengajak bicara orang lain, menceritakan hal-hal yang agak personal dan juga lebih mudah menemukan cara untuk sekadar berbasa-basi. Ya, saya terkadang not in the mood buat berbasa-basi kecuali di saat yang dibutuhkan. Lalu, kini kemampuan untuk lebih terbuka pada orang lain semakin meningkat, alhamdulillaah. Banyak hal yang mendorong saya untuk lebih meningkatkan self-disclosure , diantaranya adalah clique yang semakin lebar dan kesadaran perlunya mengungkapkan pikiran dan perasaan serta mendalami kemampuan sebagai seorang calon sarjana psikologi. Saya yakin kemampuan ini yang membuat manusia lebih tegar dari biasanya. Hahaha. Bayangkan saja kalau seseo...

Segelas Air Garam

Tekanan yang terasa di akhir persiapan menuju hari perjuangan semakin berat saja. Percaya diri yang dibangun hampir luntur karenanya.Namun di saat seperti ini kita harus cepat-cepat bangkit. Karena keinginan untuk menyerah dan berputus asa hanya akan menandakan bahwa kita meremehkan potensi yang kita miliki sekarang.  Saya yakin dalam momen apapun, masalah yang dihadapi pasti punya solusi. Bersama kesulitan pasti ada kemudahan. Bahkan karena kesulitan itulah kita mestinya menyadari bahwa kita makhluk lemah yang butuh pertolongan-Nya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak memberikan rezekinya dengan dijatuhkan dari langit. Kitalah yang menjemputnya dengan ikhtiar dan doa kita. Namun tidak dengan mengambil milik orang lain. Seperti itu pula ketika kita menghadapi masalah ini. Sebenarnya kita telah diberi jalan keluar yang baik, hanya saja kita mau melakukannya atau tidak. “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan jadilah kalian bersama orang-orang yang jujur.” ...

Tidak untuk Kali Ini

                Kepada selembar kertas concord hijau di meja, aku bergumam pelan sekali. Bagaimana harus mengungkapkannya ya?                 Anakku kini semakin dewasa. Ia sudah pandai berkata-kata layaknya pembawa acara di televisi. Bahkan ia semakin cerdas saja menggunakan teknologi canggih seperti notebook –yang kukira seperti buku, ternyata lebih dari itu!- dan internet.                 Masih kuingat ketika dulu ia tak sanggup bertahan dalam posisi duduk saat kupotong rambutnya. Ia seketika melonjak dari kursi menuju mainannya sambil menggaruk punggungnya yang gatal karena potongan rambut. Tetapi sekarang pandangannya tak bisa lepas dari sebuah layar mungil itu dalam waktu beberapa jam demi bercakap-cakap di dunia maya de...

Tepuk Tangan Untuknya

Aku kerap kali merasa bingung apa maksud dari perjalanan hidupku ini. Aku merasa nyaman dengan hidupku yang biasa saja. Bangun tidur, mandi, sholat subuh, sarapan kemudian sekolah. Aku mengikuti pelajaran di sekolah dengan tertib dan pulang tepat waktu. Aku pun juga membaca komik atau novel dan bermain dengan kawanku. Aku adalah anak biasa yang memiliki kualitas menengah di kelas dan tanpa bakat khusus. Tiap semester aku mendapat ranking 15 dari 30 anak. Walaupun begitu aku dengan senang hati menerimanya. Tak kusangka ternyata orang tuaku merasakan hal yang berbeda. Ibuku sering memuji anak tetangga ataupun temanku. Ini demi mendongkrakkan semangatku untuk berprestasi seperti mereka, katanya.  Sedangkan ayahku menjadi pendengar setia bagi orang tua yang lainnya walau merasa risih ketika pertemuan rutin wali murid di sekolah. Mereka bercerita anaknya sering mendapatkan penghargaan dari bidang keahliannya masing-masing. Kawan-kawanku itu disebut...