Posts

Tidak untuk Kali Ini

                Kepada selembar kertas concord hijau di meja, aku bergumam pelan sekali. Bagaimana harus mengungkapkannya ya?                 Anakku kini semakin dewasa. Ia sudah pandai berkata-kata layaknya pembawa acara di televisi. Bahkan ia semakin cerdas saja menggunakan teknologi canggih seperti notebook –yang kukira seperti buku, ternyata lebih dari itu!- dan internet.                 Masih kuingat ketika dulu ia tak sanggup bertahan dalam posisi duduk saat kupotong rambutnya. Ia seketika melonjak dari kursi menuju mainannya sambil menggaruk punggungnya yang gatal karena potongan rambut. Tetapi sekarang pandangannya tak bisa lepas dari sebuah layar mungil itu dalam waktu beberapa jam demi bercakap-cakap di dunia maya de...

Tepuk Tangan Untuknya

Aku kerap kali merasa bingung apa maksud dari perjalanan hidupku ini. Aku merasa nyaman dengan hidupku yang biasa saja. Bangun tidur, mandi, sholat subuh, sarapan kemudian sekolah. Aku mengikuti pelajaran di sekolah dengan tertib dan pulang tepat waktu. Aku pun juga membaca komik atau novel dan bermain dengan kawanku. Aku adalah anak biasa yang memiliki kualitas menengah di kelas dan tanpa bakat khusus. Tiap semester aku mendapat ranking 15 dari 30 anak. Walaupun begitu aku dengan senang hati menerimanya. Tak kusangka ternyata orang tuaku merasakan hal yang berbeda. Ibuku sering memuji anak tetangga ataupun temanku. Ini demi mendongkrakkan semangatku untuk berprestasi seperti mereka, katanya.  Sedangkan ayahku menjadi pendengar setia bagi orang tua yang lainnya walau merasa risih ketika pertemuan rutin wali murid di sekolah. Mereka bercerita anaknya sering mendapatkan penghargaan dari bidang keahliannya masing-masing. Kawan-kawanku itu disebut...

Dimulai dari Sampah di Depanmu

Keluh-kesah mewarnai sepanjang hari. Namun di salah satu hari itu, pelajaran yang ia dapat, melompat dari sebuah buku. Judulnya "Pedang Samurai dan Bunga Seruni." Bikinan orang Jepang? Bukan. Lagi-lagi penelitinya orang Barat. Namun serangkaian representasinya mendekati benar. Hingga pagi itu memberi bukti. Tidak mungkin seseorang bisa berjalan sambil tidur, apalagi berperang. Namun tentara Jepang, pada puluhan tahun lalu, berbaris menempelkan senjatanya di punggung temannya sambil berjalan ke arah musuh. Taktik mereka bukan gerilya, tetapi mereka tidur dan bangun di saat yang tepat. Mereka melakukan keduanya sambil berjalan terus hingga musuh gentar. 'Pertanyaan saya adalah: kekuatan apakah itu?' 'Kekuatan itu adalah semangat kesungguhan hati. Kesungguhan hati yang adalah tidak menipu, berarti "mengerahkan seluruh dirinya", secara teknis dikenal dengan "seluruh dirinya sedang beraksi" ....dan  dalam aksi itu tak ada yang ditinggalkan sebaga...

Indonesia Menggugah

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Kali ini saya menuai banyak pelajaran lagi. setelah membaca berbagai resensi buku, saya menemukan satu yang menggelitik. Adalah Murid perempuan berpipi gembil dan berambut ijuk bernama Mafalda. Ia adalah tokoh rekaan kartunis Argentina, JoaquĆ­n Salvador Lavado, yang terkenal dengan nama Quino. Sejak terbit pertama kali pada tahun 1964, komik strip Mafalda langsung merebut hati pembaca Argentina. Celetukan-celetukannya mengkritik absurditas dunia orang dewasa dan kehidupan sosial pada umumnya. Cerdas, lugu, dan menggemaskan. Contoh uniknya adalah ketika seorang temannya mengeluh mengapa anak-anak mesti sekolah. ”Katanya, kehidupan adalah sekolah terbaik, terus kenapa kita mesti ke sekolah lain? Apa sih jeleknya sekolah kehidupan? Kita kan bisa belajar semuanya dari kehidupan!” Mafalda pun nyeletuk, ”Di sekolah kehidupan, pesta wisudanya selalu dirayain di pemakaman!” Mungkin kalau di Indonesia jadinya agak tabu ya. ngayal aja gitu ka...

Correct Me, I won't be Angry :D

Bismillah. Assalamu’alaikum.. Ternyata tidak mudah untuk menghasilkan sesuatu yang berguna bagi diri kita sendiri maupun orang lain. Perlu ada koreksi dan evaluasi meskipun kita merasa sudah benar. Hmm, maaf kali ini postingannya cukup serius dan neges . Saya panik saat akan melaksanakan pelatihan Joer-V yang pertama kali itu. Masalahnya saya yang bertanggung jawab untuk memastikan pengisi materinya. Walaupun telat setengah jam dari rencana, pelatihan bisa dimulai dengan lancar. Berkat mbak-mas yang membantu waktu itu, saya bisa sedikit bernafas lega. Ketika materi layouting , sempat dibahas soal membuat lay out majalah yang baik. Sama sekali nggak nyangka majalah IMPULS bikinan kami akan dikoreksi habis-habisan. Jujur kali itu saya merasa sedikit down waktu dikoreksi hasil kerja saya. Nggak disebutin sih nama layouter nya. Tapi malu juga dong disebutin evaluasinya di depan adik-adik. *gejolak batin* “Yak, dari majalah ini kesalahan memang banyak di layouter nya.” Werr. Iya deh memang...

Mimpi

In case of postingan saya yang sebelumnya itu enggak ada bagus-bagusnya dan udah jamuran , kali ini saya akan menceritakan beberapa mimpi saya. *YEAAY!* Dengan harapan bisa memperbaiki kualitas blog saya ke depan. *pede* Eits, ini maksudnya impian, bukan mimpi pas lagi tidur. Mimpi berikut adalah yang sudah terwujud maupun belum (hampir terwujud, amiin ). 1.     Mimpi pingin masuk Smala Nah kalo mimpi satu ini jelas sudah terlaksana dengan mulus . Dulunya pas SMP saya begitu terpesona sama SMA ini. Kakak saya yang waktu itu ngambil rapot di kelas XII IA 3 (sekarang X-5) keluar-keluar mbawa tabloid CREAM. Didesak rasa penasaran, sampai di rumah langsung takbaca. Kata “wiih!” “wah!” “keren” keluar terus dari bibir saya. Sejak saat itu saya nggak mau ke SMA mana-mana kecuali SMAN 5 Surabaya. Haha, kepedean emang. Demi impian satu ini saya bela-belain makan soal tiap hari sampai mblenger . Fortunately, saya berhasil masuk Smala dengan ranking yang sama dengan kakak saya ...

Crispy Snack of New Smalane

Udah lama banget nggak nulis. Padahal banyak hal-hal aneh yang terjadi mulai hari pertama masuk SMA. Sigh. Oke mulai dari pas aku lagi jadi panitia PHPRI. Acara Peringatan Hari Proklamasi Republik Indonesia ini merupakan acaranya OSIS SMAN 5 Surabaya yang panitianya adalah anak smala rekrutan hasil wawancara. Pertamakali denger sih aku nggak tertarik buat jadi panitia. Aku malah mensupport ketua kelasku X-5, Atul untuk ikut wawancara. Dengan kepedean tingkat tinggi aku bilang kalo dia pasti keterima. Begitu ke tempat wawancara di ruang kelas XI IPA 6, tanganku malah ditarik trus disuruh nyoba wawancara di bagian panitia acara. Pasrah aku langsung duduk di depan mbaknya sementara Atul duduk ngobrol bareng kakak kelas yg lain. Mbaknya langsung nanyain nama sama nomer hapeku. Orang ditanyain loyalitas aja masih ‘hah-heh apa itu?’ gimana dikasi contoh kasus? Semua pertanyaan aku jawab dengan gugup. Yang tentu saja jawabannya gak lebih dari anak SD. Entah karena kasian atau apa mbaknya la...