Posts

NHW #1: Adab Menuntut Ilmu

Bismillaahirrohmaanirrohiim Pertama kali memutuskan untuk mengikuti kelas Matrikulasi IIP itu rasanya nano-nano. Bingung, iya nggak ya, apa nanti aja atau sekarang ya.... bisa konsisten nggak ya? :" waaah sampai harus tanya sana tanya sini terutama yang udah lulus kelas matrikulasi batch sebelumnya. kira-kira sulit nggak ya, apa tugasnya bisa dikerjakan sama yang belum punya anak dan suami 🙈 ternyata kesulitan yang dibayangkan nggak nyata (untuk saat ini). Justru yang muncul adalahtantangan di luar dugaan. tantangan yang membuat diri ini kembali merenung dan menata niat lagi, untuk apa ikut kelas Matrikulasi? mungkin setelah menjawab beberapa pertanyaan yang menjadi NHW pertama saya akan membuat saya semakin mantap belajar dengan benar. meski deg-degan, saya pun mengerjakan tugas ini perlahan (((sampai mepet banget ngumpulinnya))) My First Nice Home Work 1. Tentukan satu jurusan ilmu yang akan anda tekuni di universitas kehidupan ini. saya ingin sekali dekat sed...

Refleksi Akhir Tahun Kemarin

Image
Desember 2016 adalah bulan paling hectic yang pernah kurasakan di sepanjang perkuliahan. Setelah berbulan-bulan berkutat dengan skripsi dan berbagai hal yang tertunda-tunda, akhirnya aku mengalami yudisium juga. Artinya, ada dua status yang akan kusandang, S.Psi, dan calon pengangguran pekerja (?) Sehari setelah yudisium, aku terpaksa menggunakan jasa make up teman untuk menghadiri acara wisuda demi terlihat normal, hehe. Seperti biasanya, acara hari itu didominasi ucap berucap selamat dan foto-foto bersama teman-teman (sampai adik sendiri nggak ada fotonya sama sekali karena dia sedang ujian). Aku bertemu dan mendapat ucapan selamat sekaligus hadiah dari teman-teman seangkatan di kuliahan, KKN, sekolahan, dan teman nemu di jalan. XD Anyway , alhamdulillah semua terlihat happy ending . Pertanyaan demi pertanyaan baru mulai bermunculan, habis ini mau ngapain? Sebenarnya, aku sudah menyiapkan jawaban-jawaban dari segala pertanyaan terkait hal itu. Sudah kurencanakan pula kap...

2397

Seseorang pernah berkata padaku bahwa ekspresi yang paling mudah dalam kata-kata adalah puisi. Jujur dan tak seorang pun berhak menjadi yang paling ahli mendefinisi. Bahkan dirimu sendiri. "Kita tak perlu menjadi api untuk menghangatkan. Cukup satu peluk untuk menghalau angin membekukan. Kita tak perlu menjadi es untuk mendinginkan. Cukup satu ucap 'maaf' untuk mengusir panas dari ubun-ubun. Aku rasa risau tak pernah hilang karena kita tak pernah merasa cukup dan tak mau mengerti bahwa semua bisa disederhanakan. Aku rasa aku tak cukup berani menampakkan diri karena tembok kekalutan kubiarkan tumbuh tinggi-tinggi." Katanya, kita terlahir sebagai sebuah seni. Jangan sampai mereka merampas keotentikan dirimu dengan hiruk pikuk dunia yang melelahkan. Biarkan keunikanmu tergerai bersama aliran sungai yang deras menyegarkan. Biarkan mengalir tulus menuju muaranya.

Belajar Membangun jalan

Hal yang selalu membuat exciting adalah memulai sesuatu. Apapun itu, mengawali berarti membuka pintu menuju suatu hal yang tak pernah diduga. Seru, ngeri tapi menyenangkan.

prokrastinasi mimpi

Aku pernah dengar seorang senior berkata, "Aku sendiri di sini ya berprofesi begini karenan tuntutan ZZZ. Aslinya yah, nggak mau aku, mending kuliah di luar kota, mengejar mimpiku sendiri."beliau berkata di ruangannya, tempat klien-klien mencari solusi dari masalah medis khas keahlian beliau. Ya, beliau memutuskan untuk menunda mimpi pribadinya untuk sesuatu yang beliau anggap sedang urgent dan lebih penting. Entah sampai kapan. Teman SMA juga begitu. Sampai akhirnya ia lewatkan berbagai kesempatan meraih emas olimpiade yang sudah lama ia geluti. Bahkan sejak SD. Demi satu hal yang, urgent dan penting. Dan sampailah aku di sini... Di teng...

Kapan lagi bisa begini

Ingin sekali membuat zine. Sebuah ruang alternatif untuk mengekspresikan diri. Sebab, menyebalkan jika melihat setumpukan draft yang berteriak minta dimerdekakan. Tapi perlu menyingkirkan kalut kemelut ini. Syuh syuh.

2: Caraku Memandang Dunia Tak Lagi Sama

Izinkan aku sekadar membangun ruang bagi impianku. Izinkan aku memanggilmu anda, supaya ada sedikit jarak yang membuatku lebih leluasa. Ruang itu kini membesar tetapi temboknya kian tipis dan transparan. Anda pun memaksa membuat keakuanku menjadi kita. Kita mengubah apa-apa yang sudah kuletakkan di sana, padahal dulu selalu pada tempatnya. Sampah itu kini tercipta meski tak kuizinkan keluar dari kotaknya. Biar, biar aku yang bertanggungjawab atasnya. Nantilah kubuang kapan-kapan saat tak ada orang. Biar kumengendap-endap di malam senyap supaya besok pagi semua senang. Maaf-ku tiba-tiba meloncat begitu saja hinggap pada tanda tanya. Tak kusangka perlahan kau, wujud revolusi dari anda, menyelidiki semua. Ketika ruang itu bergetar hebat, kau masih di sana entah menungguh runtuhnya. Tapi kemudian kau ambilkan selembar kertas origami berwarna. Lapuk-lapuk yang tak kumengerti kau tutupi dengan kerajinan bangau berdiri. Lalu kudengar ketel berbunyi, saatnya minum teh sambil ...