Posts

Menjadi Introvert Produktif

Di pembahasan mengenai Cara Introvert Bekerja, saya sempat membahas suasana kerja dan aktivitas yang disukai oleh introvert. Dalam pembahasan kali ini, mari kita telisik bersama, apa yang bisa dilakukan oleh seorang introvert saat menggunakan waktu untuk beraktivitas atau bekerja agar produktif. 1. Membuat goal-list Bagi sebagian introvert, membuat perencanaan adalah kewajiban. Namun, bagi sebagian yang lain, hal tersebut bukanlah suatu hal yang begitu penting. Meskipun begitu, menurut penelitian dari Harvard, orang-orang yang menuliskan perencanaan atau setidaknya tujuan dari aktivitasnya akan meraih kesuksesan lebih mudah dibandingkan dengan yang hanya membayangkan di angan-angan atau bahkan tidak memikirkannya sama sekali. Orang introvert cenderung reflektif, mudah untuk memikirkan kemungkinan atas segala sesuatu dan memastikan sesuatu sendiri di dalam pikiran mereka. Menuliskan tujuan akan membuat introvert lebih fokus terhadap apapun pilihan hidup mereka. 2...

Ketika Introvert Menggunakan Gadget

disclaimer: ini tidak berdasarkan teori ilmiah alias just for fun. check this out! 1. Menggunakan kamera bukan untuk ngeksis Gadget serba berkamera tak menjadikan seorang introvert sering memanfaatkan untuk mejeng di berbagai media sosial. Malah, objek yang sering kali dijepret adalah barang atau suasana, bukan manusia, apalagi diri sendiri. 2. Fitur telepon jarang terpakai Bukan karena nggak punya pulsa sih, tapi sebagai introvert yang malas angkat telepon memilih untuk menjawab sesuatu via teks. Atau mungkin nomor yang menghubungi tidak ada di daftar kontak sehingga menimbulkan berbagai analisis yang panjang. Sebaliknya, jika introvert sampai menelpon seseorang berarti ada suatu hal penting dan darurat yang harus disampaikan. 3. Ada folder harta karun Gadget tidak hanya berfungsi untuk menghubungkan satu orang dengan orang lain saja tetapi juga untuk menyimpan berbagai catatan penting, foto-foto, dan rekaman yang berharga bagi introvert. Da...

Sukarelawan: Suka Duka Kerja Sosial

Jika kamu adalah orang yang tak begitu berorientasi pada hasil atau uang dalam sebuah pekerjaan dan memiliki empati yang cukup tinggi terhadap orang lain, bisa jadi kamu berjiwa sukarelawan. Banyak komunitas dan lembaga swadaya masyarakat yang ada di Indonesia bergerak karena tenaga dan keikhlasan sukarelawan. Di bawah ini, ada beberapa hal yang menjadi suka dukanya para sukarelawan ketika sedang berjuang di lingkungan sosial. 1. Bertaruh banyak hal demi kesuksesan kerja sosial Sukarelawan lebih memilih mengorbankan kepentingan dirinya untuk kepentingan orang banyak. Jadi, tak heran jika mereka mau mengeluarkan tenaga, pikiran, bahkan uang dan harta mereka lainnya untuk mendukung kegiatan sosial. 2. Tidak mengharap balasan yang lebih banyak Sejak awal, sukarelawan diajarkan untuk ikhlas. Tujuan dari kegiatan sosial memang bukan untuk meraup untung sebanyak-banyaknya melainkan untuk memberikan manfaat sebanyak mungkin untul orang lain. Ap...

You Don't Have to be

Saya teringat zaman SMA pernah mendapat motivasi dari seseorang dengan cara yang tidak biasa. waktu itu saya merasa sangat takut ketika mengemban amanah baru yang benar-benar tidak saya sangka. Di tengah kebingungan dan ketidakpahaman, saya mencoba memantapkan langkah dan mengambil resikl dari sebuah keputusan untuk maju. Motivasi berupa surat dari kakak kelas saya berisi kata-kata yang simpel saja, mengenai keputusan dan kemuan untuk belajar. Kemudian ia mengutip salah satu lirik lagu Green Day di bawah ini.  Menurut saya liriknya meaningful banget. Setelah itu saya simpan rapat-rapat kertasnya (meski kertas bekas tapi punya nilai momentum yang berdampak luar biasa). Kalau penasaran, coba hayati sendiri liriknya. GREEN DAY LYRICS "Good Riddance (Time Of Your Life)" Another turning point, a fork stuck in the road Time grabs you by the wrist, directs you where to go So make the best of this test, and don't ask why It's not a q...

Hasil Belajar: Pendidikan bukan Persekolahan

Kita terbiasa dididik oleh masyarakat di lingkungan kita dengan kata sekolah. Kalau mau pinter ya sekolah. Kalau mau jadi orang, ya sekolah.

Bukan Butuh Piknik, tapi Teman Seperjalanan

Sebagai orang yang sejak lahir tinggal di ibukota (Jawa Timur), hiruk pikuk perkotaan sudah jadi rutinitas saya. Mau tidak mau, saya harus terbiasa dikelilingi dengan berbagai hal yang menuntut kerja keras. Pikiran jadi cepat letih, badan jadi mudah lesu, hati pun lunglai. Namun, manusia diciptakan oleh Allah dengan akal yang demikian kreatif dan alam yang mendukung supaya segala sesuatunya seimbang dan kembali seperti semula. Keletihan yang kita rasakan tentu ada obatnya. Jika sakit badan, asupan makanan nan bergizi akan memulihkan stamina kita. Jika sakit hati, dzikir bisa jadi penenang jiwa. Jikalau pikiran? Tentu ada banyak jalan untuk menguraikan keruwetan di dalamnya. Beberapa orang dengan jempolnya memviralkan sebuah kutipan, "Kalau kamu stres mungkin kamu butuh piknik." Wah, saya sempat berpikir hal yang sama. Mungkin segala kerumitan yang membuat saya lelah bisa jadi karena kekurangan waktu bersantai atau jalan-jalan. Hanya saja, pikiran saya semakin njlimet memiki...

Keseimbangan

Beberapa hari ini saya cukup kelelahan secara fisik karena saya sedang mengikuti kegiatan Pesta Pendidikan di Yogyakarta. Saya yang masuh bandel ini lebih memilih lelah (sampai sakit) untuk berkeliling menimba ilmu daripada tiduran di kasur (yang sebenarnya enak juga sih). Saking padatnya acara, buku yang saya bawa nggak sempat terbaca. Ada sekitar 20-an kelas yang dapat diikuti secara gratis di gedung utama balai kota Yogyakarta. Beberapa diantaranya  yang saya ikuti adalah kelas Pendidikan yang bertajuk talkshow: Benarkah Anak Indonesia bahagia tetapi tidak berprestasi? Kelas lainnya yang saya ikuti adalah talkshow homeschooling mulai dari bagaimana legalitas homeschooling di Indonesia dan cerita praktisi homeschooling. Dua hari yang penuh makna saya jalani dengan bahagia meski batuk melanda. Di Pesta Pendidikan, saya menemukan kenyataan yang menyenangkan bahwa masih banyak komunitas dan masyarakat yang peduli dengan pendidikan, serta berpikiran ...