Posts

Find your One Thing

Kita hidup di dunia pasti ada sebabnya. Banyak orang yang bilang kalau kita ini tidaklah lahir ke dunia dalam keadaan hampa. Kosong. Polos. Sehingga sangat tergantung dengan hal di luar kita. Bukan seperti itu. Kita bukanlah sebuah kertas yang putih yang bisa jadi akan ditentukan oleh yang mewarnai kita dari luar. Justru, kitalah yang dapat mewarnai berbagai hal di sekitar dengan warna yang kita punya. Setiap orang memiliki modal yang berbeda-beda untuk menghadapi tantangan di kehidupan. Bekal yang membuat manusia siap untuk menyelesaikan berbagai persoalan rupanya memang sudah diberikan sejak ia lahir. Setiap insan yang terlahir ke dunia telah membawa misinya masing-masing. Misi tersebutlah yang akan menjawab pertanyaan "untuk apa aku ada?" Meskipun berada di lingkungan yang sama, dua orang (yang pasti berbeda) tidak akan memberikan warna yang sama persis. Tiap orang memberikan sentuhan yang berbeda kadarnya pada obyek apapun di tempatnya berada. Sebab, pada dasarnya se...

Tantangan Kemandirian: 5 for 1 update

Menjalankan misi 5 for 1 ini cukup menggelisahkan awalnya karena banyak distraksi yang harus dihindari. Masalah ketergantungan yang tinggi terhadap gadget juga cukup memberikan andil pada berjalannya misi ini. Niat yang kuat dibutuhkan untuk membuat tantangan selama minimal 10 hari tetap berjalan lancar sesuai keinginan. Target minimalnya adalah mampu mengurangi kadar interaksi terhadap gawai dan menambah kualitas serta kuantitas proses pengerjaan hal-hal yang produktif. Tujuannya, tentu saja untuk membangun habituasi alias kebiasaan positif. Awal pelaksanaan misi, saya masih gagal fokus dan masih saja secara otomatis membuka gawai untuk melihat notifikasi. Saya jadi agak kaget mengingat misi yang sedang dijalannkan. Hal itu membuat saya maklum dengan beberapa 'kelepasan' yang terjadi. Selanjutnya, saya coba untuk menguninstall beberapa aplikasi yang memberatkan gawai dan badan saya agar tidak semakin betah duduk dan mengakses gawai. Alhamdulillah saya tidak punya banyak ak...

Tantangan Kemandirian: 5 Minutes for 1 Hour

Dimulai dari menemukan tujuan awal untuk apa tantangan ini dilakukan.. Saya sendiri merasa sangat kurang mandiri dalam hal manajemen waktu dan penggunaan barang, terutama gawai. Ternyata tanpa sadar saya masuk ke dalam golongan orang-orang nomophobia . *lebay sih, tapi ternyata ada sedikit kecemasan saat tidak bisa menjangkau handphone ataupun mendengar notifikasi masuk. So I'm screwed now. Ewh . Nah, mulai pekan ini saya akan mencoba untuk menerapkan teknik 5 minutes for 1 hour untuk penggunaan HP. Kenapa nggak memakai teknik cut off sekalian? karena banyak yang perlu diurus di sana, mulai dari urusan keluarga, kuliah, marketing , meet up , dan lainnya terutama di aplikasi whatsapp dan e-mail. Lalu kenapa tidak sekalian 2 jam misalnya dalam sehari, kan sama aja tuh? Nah, karena judulnya tantangan kemandirian dalam hal manajemen waktu, saya mencoba untuk mengatur daripada memangkas waktunya sekaligus. Apapun yang terjadi saya harus fokus mengerjakan apapun dalam satu jam sec...

Toleransi untuk Kawan

Pernah kualami di masa sekolah dasar, teman sebangkuku dirisak (bully) karena ia menggambar sebuah lambang agama tertentu. Ya ampun, kenapa lagi, pikirku saat itu. Selain dipicu gambar itu, ia memang sering diolok-olok karena fisiknya. Ah, sedih sekali mengingatnya. Namun, hal tersebut tidak lagi saya temukan di masa sekolah menengah. Mungkin pikiran anak-anak itu sudah berkembang. Saat saya bersama teman-teman membuat suatu tempat nongkrong-baca di daerah Rungkut, saya merasakan konflik berdasar SARA juga muncul di kalangan anak sekolah dasar. Ada yang tidak mau bergaul dengan anak beragama lain padahal mereka bisa bermain bersama. Akhirnya pada sebuah momen, dibuatlah acara Kelas Kebangsaan yang mendorong mereka untuk bekerjasama sebagai satu  suku bangsa. Permainan tradisional, bernyanyi lagu anak-anak khas daerah, sampai bermain angklung jadi sarana pemersatu mereka. Mungkin agak sulit menjangkau jauh batas-batas toleransi sehingga kita bisa menerima perbedaan dengan legaw...

Teman dalam Cahaya

Kita terkadang takut untuk menasihati kawan ketika ia berada di posisi yang salah. Bisa jadi karena takut ia tersinggung, menghindar, atau bahkan meninggalkan kita. Padahal, teman yang sebenarnya tidak akan mudah meninggalkan satu dengan yang lain. Ya, terkadang pikiran itu muncul dari perasaan kesepian atau ketakutan yang hampa. Hampa dari rasa takut dan harap kepada Sang Pencipta. Dia-lah yang selalu mengawasi kita, mendengarkan segala pinta dan mengabulkan segala doa. Awalnya barangkali kita menoleransi perasaan gundah dengan membiarkan perilaku teman kita yang kurang tepat. Sayangnya, hal itu justru membuat kita semakin mengabaikan kewajiban untuk mengingatkan sesama, mencegah kemungkaran. Tanpa terasa, perilaku telah menjadi kebiasaan. Kita pun tahan berlama-lama meski tahu akibat perbuatannya. Bukannya sudah dibilang bahwa berteman dengan tukang besi niscaya ikut terpercik api? Bersinggungan sedikit dengan teman demi kebaikan bukanlah masalah besar. Lebih baik ia terhentak se...

Cara Bilang Tidak pada Teman

Mending mana, menolak atau ditolak? Hehe bergantung sikon kali ya.. Nah, kadang kita mengalami dilema saat ada urusan penting tapi diajak teman pergi atau melakukan suatu hal lain. Yah, meski urusan itu bisa seperti istirahat atau beres-beres (yang kelihatan remeh) tapi tetap saja kitalah pemegang prioritas segala urusan. Apalagi bila kita diminta tolong untuk melakukan sesuatu yang tak sesuai dengan nurani, kita sangat dianjurkan untuk tidak mengiyakannya. Suatu saat kita perlu bilang tidak untuk ajakan teman meskipun kita sebenarnya mau dan sungkan menolak. Ada beberapa tips untuk mengatakan tidak pada teman kesayangan kita supaya urusan kita lancar dan teman kita nggak baper: 1. Kita katakan saja yang sebenarnya Ini hal yang paling mudah dilakukan kalau kita memang memiliki alasan yang jelas dan dipandang penting bagi kita dan juga teman kita itu. Kita bisa berikan rasionalisasi alasan kenapa kita tidak bisa melakukan apa yang ia minta. Bisa juga berikan penjelasan dari sudut...

Berteman dengan Lansia

Mencari tahu banyak hal sekarang ini sangatlah mudah. Semua orang seakan berlomba-lomba untuk memberitahu orang lain perihal apa yang mereka ketahui meski kadang belum tentu benar dan perlu. Tiap hal yang kita dapatkan lalu bagi kepada orang lain adalah tanggungjawab kita. Kadang kita lupa kalau ada konsekuensi di balik hal-hal yang kita tahu. Kata Nenek saya, manusia semakin banyak saja akalnya. Ngomong-ngomong tentang manusia, saya kagum dengan nenek saya yang notabene pengalaman hidupnya sangat patut diacungi jempol dua. Hidup di zaman pra-kemerdekaan membuatnya mengalami pasang-surut secara ekonomi. Meski orangtua beliau memiliki status sosial yang cukup tinggi di desanya, tidak membuatnya hidup enak dan bersantai saja. Ia harus berjualan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Selain itu, ia harus menerima perjodohan dengan orang tak dikenalnya saat ia masih berusia belia -iya, suaminya sendiri-. Wah, sudah seperti cerita fiksi saja pokoknya. Sampai saat ini beliau masih memiliki p...