Posts

Kreatif dalam Syukur

Selama ini kita mungkin sudah terbiasa dengan program yang membuat kita menjalani rutinitas yang biasa. Sampai akhirnya pada satu titik merasa jenuh. Berarti sudah waktunya untuk mencoba cara baru, sudut pandang baru atau yang berbeda dari biasanya. Setelah melakukan ativitas rutin scrolling Instagram (membunuh waktu yang sangat tidak efektif :( ) saya memutuskan untuk mencoba merutinkan jurnal syukur yang dulu sempat menjadi tugas seminar. Awalnya saya abaikan begitu saja karena tidak yakin akan membuat saya berubah. Tapi akhirnya setelah membaca kisah-kisah heroik orang-orang yang mengalahkan 'dirinya' sendiri, saya akhirnya mau juga. Saya coba dengan hal yang sederhana seperti memikirkan apa yang membuat saya masih survive saat ini, atau hal positif apa yang terjadi di hari ini. Saya coba lagi dengan cara lain, menanyakan kepada orang lain apa yang membuat mereka senang atau bersyukur. Ternyata itu juga efektif menularkan rasa syukur kepada saya. Rasanya jadi ikut bahagi...

Memulai Kreativitas

Sudah lama saya merasa jauh dari kreasi-kreasi. Rasanya seperti menjalani saja yang sudah ada. Tidak ada hal yang menggugah saya untuk kembali membuat sesuatu. Kesempatan ini mungkin memang datang tepat pada waktunya. Kemarin, teman saya memberikan hadiah berupa benang rajut dan hakpen. Padahal saya udah lupa semua tuh cara membuat rajutan :') Hehehe sebenarnya tantangan kali ini lebih daripada membuat prakarya. Tantangan yang dihadapi keluarga untuk membuat bonding yang lebih rekat. Hmm, kira-kira apa ya yang bisa dilakukan? Saya mencoba membaca-baca buku lagi untuk membiasakan diri mencari inspirasi dari sumber yang positif dan jelas (no hoax) bukan sekadar opini. Saya juga belajar lagi memahami hikmah dari kisah-kisah yang nyata maupun fiksi untuk menajamkan kembali kepekaan berbahasa. Sampai pada akhirnya saya menemukan bahwa kita (saya kali ya) harus belajar lagi untuk mengelola pikiran-pikiran positif untuk menangkal virus-virus bisikan negatif yang destruktif. Saya men...

Menerima Rezeki

Sungguh ingin sekali rasanya memiliki jiwa yang berkecukupan. Tidak mudah mengeluh atas pemberian apapun karena semuanya sudah ada yang ngatur. Tidak gampang lupa sama yang memberi karena kita diajarkan untuk ingat selalu cara berterima kasih. Seorang yang hidupnya sederhana bisa mencukupi kebutuhan diri bahkan memberi untuk orang lain di sekitarnya asalkan hatinya berkelimpahan. Pikiran tidak ruwet mencari pembenaran atas tuduhan kondisi yang menurutnya tidak mendukung keinginannya. CUKUP adalah tujuan utamanya. Kekurangan tidak dirasa karena yakin ada cukup banyak peluang datangnya rezeki kepada kita. Allah.... berikanlah kami kelapangan hati untuk dapat mudah bersyukur atas segala karuniamu :"

Catatan Keuangan Digital

Image
Hari ini saya mencoba untuk mengunduh dan memasang aplikasi keuangan yang bernama Household Account Book. Aplikasi finansial ini lucu dan unik sih menurut saya. Tampilannya yang memang berupa karakter manga yang bergerak-gerak ala boomerang membuat aplikasi ini jadi terlihat imut dan nggak seserius namanya. Saya coba untuk melihat-lihat fitur yang dibawa aplikasi bikinan jepang ini dan sangat cocok buat saya yang suka pencatatan ringkas dan sederhana. Aplikasi imut nan simpel untuk keuangan Aplikasi ini tergolong mudah digunakan alias user friendly . Saat masuk aplikasi, jangan lupa mengubah mata uang menjadi Indonesian Rupiah dari setting awalnya yang berupa mata uang yen Jepang. Tinggal klik others - setting - convert money . Lalu untuk mulai mencatat langkahnya cukup simpel. Kita langsung diberikan opsi untuk mengisi catatan dengan mengetikkan jumlah uang dalam tampilannya yang seperti kalkulator. Lalu disimpan dalam kategori yang kita inginkan, apakah pembayaran (paid) atau...

Bisnis di Masa Kecil

Saya ingin sekali membuka usaha bisnis sesuatu sejak dulu. Tapi seringkali mentok karena merasa tidak cukup modal untuk memulainya. Namun, seiring berjalannya waktu saya mengamati bahwa orang-orang yang memulai usaha itu tidak selalu menunggu punya modal uang banyak. Bahkan ada yang hanya bermodal kartu nama atau malah tidak bermodal uang sama sekali atau biasanya disebut modal dengkul. Keinginan saya memulai bisnis ini sebenarnya sudah sempat terwujud sejak kelas 1 SD dimana saya dan sahabat saya memetik kembang sepatu dan menggunakan dasar bunga serta mahkotanya untuk membersihkan sepatu sekolah (terbuat dari kulit sintetis). Setiap teman yang kami tawari untuk dibersihkan sepatunya bersedia menghargai 100 rupiah per pasang sepatu. Jangan dibayangkan sepatunya orang dewasa yang guede ya.. Ini kan sepatu anak-anak, jadi mestinya nggak berat membersihkannya >.< Di kelas tinggi (kelas 4-6 SD) saya juga membuka bisnis bersama teman-teman segeng dan se-anjem (antar jemput becak)...

catatan keuangan

saya dulu masih rajin bikin tabel pengeluaran dan pemasukan. tapi makin lama makin sok sibuk ._. saya cuman mengandalkan nota dan catatan insidental kalau ada pengeluaran yang agak banyak. sisanya terlupakan *tutup muka* biasanya sekarang sih saya memastikan nggak ada hutang yang belum terlunasi dalam satu minggu. lalu memastikan tetap ada simpanan cash selain tabungan di bank. catatan keuangan untuk sementara hanya di buku jurnal harian aja dan itupun nggak yang rapi buanget, ya cuman coret-coretan buat totalan *kemudian menyesal kenapa kebanyakan belanja buku*

Bersih-bersih Finansial

Rasanya zaman sekarang hidup halal adalah suatu hal yang ideal. Sedangkan bagi sebagian orang, menjadi ideal itu hampir nggak mungkin karena hampir semua orang berada kondisi yang tidak ideal. Contohnya saja, RIBA. Sudah tahu sih itu ngeRI BAnget, tapi masih aja kita nggak bisa lepas karena alasan kebutuhan. Padahal kalau dipikir-pikir, kebutuhan kita itu sudah dicukupi oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Setiap orang sudah dicatat rezekinya masing-masing. Semestinya, kekhawatiran tentang rezeki itu sudah tidak perlu ada lagi. Namun, rupanya kepintaran manusia ini sudah seperti dua mata pedang, di satu sisi bisa membantu memudahkan urusan. Sedangkan di sisi lain, justru menjerumuskan manusia. Kecanggihan teknologi tidak mampu meredakan kekhawatiran akan kecukupan kebutuhan manusia, bahkan malah membuat kegalauan menjadi-jadi. Yah, apalagi sesuai dengan sifat manusia yang suka tergesa-gesa dan tidak pernah puas. Alhamdulillahnya, kita masih diberikan petunjuk lewat Rasulullah Shalla...