Posts

Menjadi Besar

Tugas sekolah di awal tahun ini sepertinya cukup untuk menambah postingan berguna. Semoga menginspirasi! ^^ Alkisah, seorang bangsawan yang kaya raya yang tinggal di dekat padang rumput yang luas. Ia memelihara beberapa ekor kuda dan kambing untuk diternakkan. Sampai pada suatu hari, kuda dan kambingnya bertambah banyak sehingga ia memutuskan untuk memilih dua pemuda dari keluarga miskin untuk dijadikan pekerja. Dua pemuda ini diberi tugas yang berbeda oleh si bangsawan. Yang berbadan tinggi besar dipekerjakan untuk mengurus kuda, sedangkan yang berbadan kurus dan lebih kecil mengurus ternak kambing. Lalu mereka mulai mengerjakan tugasnya hari itu dengan semangat. Setelah beberapa saat, pemuda berbadan tinggi besar itu berkata dengan arogan, “Hai sobat. Badanku kan lebih besar dan Aku lebih tua darimu. Mulai besok kita bertukar tempat. Kau mengurus kuda dan Aku mengurus ternak kambing. Awas ya kalau sampai tuan tahu! Kalau sampai berani lapor atau menolak, kuhabisi badan ke...

Segelas Air Garam

Tekanan yang terasa di akhir persiapan menuju hari perjuangan semakin berat saja. Percaya diri yang dibangun hampir luntur karenanya.Namun di saat seperti ini kita harus cepat-cepat bangkit. Karena keinginan untuk menyerah dan berputus asa hanya akan menandakan bahwa kita meremehkan potensi yang kita miliki sekarang.  Saya yakin dalam momen apapun, masalah yang dihadapi pasti punya solusi. Bersama kesulitan pasti ada kemudahan. Bahkan karena kesulitan itulah kita mestinya menyadari bahwa kita makhluk lemah yang butuh pertolongan-Nya. Allah Subhanahu Wa Ta’ala tidak memberikan rezekinya dengan dijatuhkan dari langit. Kitalah yang menjemputnya dengan ikhtiar dan doa kita. Namun tidak dengan mengambil milik orang lain. Seperti itu pula ketika kita menghadapi masalah ini. Sebenarnya kita telah diberi jalan keluar yang baik, hanya saja kita mau melakukannya atau tidak. “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan jadilah kalian bersama orang-orang yang jujur.” ...

Tidak untuk Kali Ini

                Kepada selembar kertas concord hijau di meja, aku bergumam pelan sekali. Bagaimana harus mengungkapkannya ya?                 Anakku kini semakin dewasa. Ia sudah pandai berkata-kata layaknya pembawa acara di televisi. Bahkan ia semakin cerdas saja menggunakan teknologi canggih seperti notebook –yang kukira seperti buku, ternyata lebih dari itu!- dan internet.                 Masih kuingat ketika dulu ia tak sanggup bertahan dalam posisi duduk saat kupotong rambutnya. Ia seketika melonjak dari kursi menuju mainannya sambil menggaruk punggungnya yang gatal karena potongan rambut. Tetapi sekarang pandangannya tak bisa lepas dari sebuah layar mungil itu dalam waktu beberapa jam demi bercakap-cakap di dunia maya de...

Tepuk Tangan Untuknya

Aku kerap kali merasa bingung apa maksud dari perjalanan hidupku ini. Aku merasa nyaman dengan hidupku yang biasa saja. Bangun tidur, mandi, sholat subuh, sarapan kemudian sekolah. Aku mengikuti pelajaran di sekolah dengan tertib dan pulang tepat waktu. Aku pun juga membaca komik atau novel dan bermain dengan kawanku. Aku adalah anak biasa yang memiliki kualitas menengah di kelas dan tanpa bakat khusus. Tiap semester aku mendapat ranking 15 dari 30 anak. Walaupun begitu aku dengan senang hati menerimanya. Tak kusangka ternyata orang tuaku merasakan hal yang berbeda. Ibuku sering memuji anak tetangga ataupun temanku. Ini demi mendongkrakkan semangatku untuk berprestasi seperti mereka, katanya.  Sedangkan ayahku menjadi pendengar setia bagi orang tua yang lainnya walau merasa risih ketika pertemuan rutin wali murid di sekolah. Mereka bercerita anaknya sering mendapatkan penghargaan dari bidang keahliannya masing-masing. Kawan-kawanku itu disebut...

Dimulai dari Sampah di Depanmu

Keluh-kesah mewarnai sepanjang hari. Namun di salah satu hari itu, pelajaran yang ia dapat, melompat dari sebuah buku. Judulnya "Pedang Samurai dan Bunga Seruni." Bikinan orang Jepang? Bukan. Lagi-lagi penelitinya orang Barat. Namun serangkaian representasinya mendekati benar. Hingga pagi itu memberi bukti. Tidak mungkin seseorang bisa berjalan sambil tidur, apalagi berperang. Namun tentara Jepang, pada puluhan tahun lalu, berbaris menempelkan senjatanya di punggung temannya sambil berjalan ke arah musuh. Taktik mereka bukan gerilya, tetapi mereka tidur dan bangun di saat yang tepat. Mereka melakukan keduanya sambil berjalan terus hingga musuh gentar. 'Pertanyaan saya adalah: kekuatan apakah itu?' 'Kekuatan itu adalah semangat kesungguhan hati. Kesungguhan hati yang adalah tidak menipu, berarti "mengerahkan seluruh dirinya", secara teknis dikenal dengan "seluruh dirinya sedang beraksi" ....dan  dalam aksi itu tak ada yang ditinggalkan sebaga...

Indonesia Menggugah

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Kali ini saya menuai banyak pelajaran lagi. setelah membaca berbagai resensi buku, saya menemukan satu yang menggelitik. Adalah Murid perempuan berpipi gembil dan berambut ijuk bernama Mafalda. Ia adalah tokoh rekaan kartunis Argentina, JoaquĆ­n Salvador Lavado, yang terkenal dengan nama Quino. Sejak terbit pertama kali pada tahun 1964, komik strip Mafalda langsung merebut hati pembaca Argentina. Celetukan-celetukannya mengkritik absurditas dunia orang dewasa dan kehidupan sosial pada umumnya. Cerdas, lugu, dan menggemaskan. Contoh uniknya adalah ketika seorang temannya mengeluh mengapa anak-anak mesti sekolah. ”Katanya, kehidupan adalah sekolah terbaik, terus kenapa kita mesti ke sekolah lain? Apa sih jeleknya sekolah kehidupan? Kita kan bisa belajar semuanya dari kehidupan!” Mafalda pun nyeletuk, ”Di sekolah kehidupan, pesta wisudanya selalu dirayain di pemakaman!” Mungkin kalau di Indonesia jadinya agak tabu ya. ngayal aja gitu ka...