Posts

Happiness Activity

Beberapa orang bingung untuk memilih hal apa yang ingin dipelajari hingga menjadi mahir atau setidaknya dapat menjadi kemampuan yang diandalkan. Nggak heran juga sih, sekarang ini makin banyak pilihan yang bisa kita ambil untuk kita ketahui di dunia nyata maupun dunia maya. Namun, kita perlu tahu bahwa ada hal yang lebih penting untuk diprioritaskan dan dipelajari lebih lanjut.  Beberapa langkah yang saya lakukan saat saya ingin menekuni sesuatu setidaknya ada tiga. Pertama saya mencoba untuk mencari tahu kesukaan saya dan seberapa kadar kesukaan saya terhadap suatu aktivitas tertentu. Saya coba bongkar-bongkar 'harta karun' yang saya punya di lemari. Kebanyakan adalah barang yang saya buat dengan tangan sendiri dan saking excited -nya saya simpan dalam jangka yang panjang. Saya pilah dan pilih barang mana yang masih berkesan dan memiliki happiness value buat saya. Sambil nostalgia saya coba ingat dan menata kembali barang-barang yang saya miliki di dalamnya. (Ceritanya ini ...

Mencari Diriku Sendiri

Tantangan 10 Hari Level 7 IIP ini sungguh membuat cukup baper :" karena masih nyambung dengan apa yang sedang saya galaukan beberapa waktu lalu hingga kini. Meskipun begitu, saya mencoba untuk meyakinkan diri bahwa inilah hal yang membuat mata saya berbinar saat mengerjakannya. Memotivasi orang lain dengan caraku sendiri. Beberapa tahun, saya sempat kebingungan untuk memilih jurusan yang akan saya targetkan sebagai tempat saya berkuliah S1. Impian menjadi dokter pun jadi sangat jauh dari kata realistis menimbang diriku saat itu yang terdistraksi dengan kesenangan berorganisasi. Nilai-nilai rapor yang sangat pas-pasan mengindikasikan bahwa saya harus bekerja sangat keras untuk dapat menuju ke target yang begitu tinggi. Saya memilih untuk mengambil pilihan alternatif, yaitu psikologi. Lupa sih tepatnya kenapa bisa kepikiran. Waktu itu saya sedang menggeluti suatu peran dimana saya lebih banyak dituntut memotivasi orang lain. Bahkan pernah terpikir ingin jadi motivator , lol. T...

Melambatkan waktu

I feel my mind so chaotic So I will do some exercise to get my mind calmer And the pace of time slower . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . I choose to be.... unplugged. Thank you for stopping by.

Menilai diri dan orang lain

Pernah mendengar tentang standar ganda? Terkadang kita dengan mudahnya menilai orang lain salah karena kita merasa dia tidak berada di pihak kita. Hanya karena pilihan yang berbeda, kita menggeneralisasi penilaian kita pada orang lain berdasarkan perbedaan itu. Padahal, itu justru bisa merusak logika berpikir kita. Kita jadi mengandalkan standar ganda, kalau aku dan kelompokku benar apapun alasannya, kalau dia dan kelompoknya pasti salah, meskipun ada bagian benarnya. Pokoknya salah! Nah, ini yang membuat pikiran semakin tidak jernih memandang suatu hal. Kita perlu memperbaiki mindset diri kita untuk tidak salah berlogika. Mungkin kita masih ingat dengan soal logika berikut ini: A>B B>C A>C? (jika A maka B, jika B maka C. Nah, apakah berarti jika kondisi A maka terjadi C?) Masih bingung? Coba kita perhatikan contohnya saja. Jika Ibu memasak, maka Ayah senang. Jika Ayah senang, maka anak diajak jalan-jalan. Apakah jika Ibu memasak, maka anak diajak jalan-jalan? ...

Mencari Peluang

Sebagai manusia alias homo economicus biasanya suka sekali yang namanya gratisan atau diskonan. (Siapa yang nggak suka coba? Hehe). Ternyata ini sedari kecil sudah tertanam bahkan dibiasakan oleh keluarga dan masyarakat di sekitar. Saat membeli sebuah makanan, normalnya kita terbiasa sudah menilai kesesuaian antara porsi dan harganya. Begitu ada tawaran dapat bonus mainan, misalnya, maka itu jadi petimbangan yang lain yang menarik hati konsumen khususnya anak-anak. Saat masih anak-anak, saya pun sudah sangat familiar dengan aneka penawaran makanan maupun mainan yang berbonus mainan pula. Jajanan semacam Chiki, Cheetoz, dan sebagainya selalu melampirkan kata bonus beragam mainan di bungkusnya. Kini, bonus telah menjelma menjadi lebih atraktif dan beragam lagi jenisnya. Pedagang dan pembeli sama-sama semakin jeli dan kreatif melancarkan strategi. Saya tidak begitu suka berbelanja sih. Tetapi kalau soal diskon, saya masih sering update :D Cukup tahu saja. Kadang juga saya getol mencar...

Penuh Perhitungan

Sejak SMA saya mengikuti sebuah komunitas yang membuat saya harus lebih disiplin diri. Sebut saja lingkaran cinta. Di sana saya mendapatkan pencerahan tentang indahnya ukhuwah dan terlebih lagi cara mencintai jalan hidup yang saya pilih, yakni Islam. Semangat yang menggebu untuk mengenal lebih dekat jalan ini membuat saya ingin lebih banyak memperbaiki diri. Saya mulai dengan hal yang sangat dekat dan mudah dikenali, diri sendiri. Amal yaumi, sebuah evaluasi yang harus dilakukan tiap hari, saya periksa satu demi satu. Sesuai target kah? Apa bisa ditingkatkan kah? Katanya, hisablah sebelum dirimu dihisab.... Meski sedikit tetapi istiqomahlah... Berharap, dengan adanya perhitungan yang diadakan atas diri bisa membuat diri lebih bersiap untuk hari yang pasti.

Menyederhanakan Problematika

Saat melihat kembali ke masa-masa belajar matematika. Ada keasyikan yang saya rasakan ketika menyelesaikan berbagai soal-soal di buku pelajaran. Sampai-sampai saya penasaran dengan pelajaran di bab berikutnya yang belum diberikan. Saya merasa ada semacam petualangan memecahkan teka-teki. Semacam bermain angka dan main tebak-tebakan. Semakin ke sini saya merasa matematika lebih banyak berperan untuk menyederhanakan hidup yang terlihat rumit. Adalah bracketing, prinsip matematika yang saya pakai saat saya merasa penat dalam kesibukan. Hehe itu saya bikin sendiri sih... Intinya saya kelompokin dulu persoalan-persoalan yang setipe dan dapat diselesaikan di level yang sama. Mulai dari yang mudah dulu atau yang sumbernya dapat dijangkau. Baru kemudian menyelesaikan permasalahan yang berada setingkat di atasnya dan seterusnya.