Posts

Tak Akan Apa-Apa

Seseorang pernah berkata padaku bahwa ekspresi yang paling mudah dalam kata-kata adalah puisi. Jujur dan tak seorang pun berhak menjadi yang paling ahli mendefinisi. Bahkan dirimu sendiri. "Kita tak perlu menjadi api untuk menghangatkan. Cukup satu peluk untuk menghalau angin membekukan. Kita tak perlu menjadi es untuk mendinginkan. Cukup satu ucap 'maaf' untuk mengusir panas dari ubun-ubun. Aku rasa risau tak pernah hilang karena kita tak pernah merasa cukup dan tak mau mengerti bahwa semua bisa disederhanakan. Aku rasa aku tak cukup berani menampakkan diri karena tembok kekalutan kubiarkan tumbuh tinggi-tinggi." Katanya, kita terlahir sebagai sebuah seni. Jangan sampai mereka merampas keotentikan dirimu dengan hiruk pikuk dunia yang melelahkan. Biarkan keunikanmu ketergerai bersama aliran sungai yang deras menyegarkan. Biarkan mengalir tulus menuju muaranya. Sby, 15-08-2016, pukul 08.38 ---------------------------------- Hai alterego, sampai jumpa l...

Konselor Anak dan Remaja atau Konselor Pengasuh Mereka?

Sebelum memasuki ke ruangan, saya sudah punya ekspektasi. Ini acara bikinan Pak Cahyadi dan tim, pasti kece lah. Tapi, sudut pandang orangtua zaman old masih membayangi dan bikin saya agak kurang yakin dengan sajian yang akan saya dapat hari itu. Tipe belajar yang mesti lewat dituturi dan ceramah umum standar motivator jadi saput yang membuat terasa kurang bergairah. Sangat membosankan. Tapi buru-buru saya tepis. Apa guna jauh-jauh datang, jauh dari keluarga, keluar dari zona nyaman, tetapi tidak dapat apa-apa karena terbentur ekspektasi sendiri? Pak Cah membuka acara dengan guyonan elegan, tetapi menukik dengan data-data. Terasa nyata, air mata dan sedu sedan beban yang pernah hadir sebagai cerita di teras rumah beliau. Terlampau keterlaluan jika tidak tahu sedikitpun fenomena anak negeri di media massa dan sosial. Begitu lantangnya teriakan jiwa mereka mencari bantuan lewat jalan-jalan sunyi. Tertutupi hingar bingar prestasi akademik atau kebanggaan yang lain. Kulihat se...

Apresiasi

Bentuk penghargaan terhadap seseorang memang terkadang sulit diukur. Dan itulah seninya hidup. Kita terkadang berusaha menyenangkan orang lain dan berharap dibalas seperti itu juga. Namun, adakalanya apa yang menjadi ekspektasi tidak terwujud. Nah barangkali memang apresiasi itu tidak dibuat untuk memenuhi harapan yang persis sama seperti yang diinginkan. Tetapi justur apresiasi hadir untuk menjadi penyemangat, bonus, dan kejutan yang siap mewarnai kehidupan kita.

Lebih teliti

Tepat sepekan yang lalu saya agak kurang fokus sehingga berdampak pada performa saat bekerja atau belajar. Saya melakukan beberapa kesalahan sepele seperti menghitung skor sehingga saya harus beristirahat dulu sampai akhirnya fokus lagi. Ternyata memang kebutuhan diri seperti fisik dan mental tidak bisa diabaikan begitu saja. Sebab ketika sakit, konsentrasi berkurang dan malah jika dipaksa semakin memperburuk keadaan. Alhamdulillah setelah menyadari kekeliruan itu, saya menjadi lebih peduli dengan hak yang ada pada diri sendiri agar saya bisa membantu orang lain lebih maksimal.

Mengkroscek Data

Yang paling penting saat menjadi orang dewasa adalah bisa melek literasi guna mengajarkan literasi itu sendiri kepada generasi penerusnya. Terkadang masih kita lihat ada kekeliruan di media sosial yang menyajikan berbagai informasi yang begitu deras. Tetapi kita tidak cukup kritis untuk membedakannya. Informasi yang menarik seperti kesehatan dan topik yang sedang hangat saat itu justru semakin membingungkan orang-orang. Agar tidak terjadi pada kita, kita perlu meneliti lagi dengan logika yang kita asah setiap hari. Dengan begitu, kita tidak mudah termakan omongan atau informasi yang belum tentu benar.

Zero waste

Kalau mau dihitung-hitung, ternyata hidup yang tidak memegang value zerowaste cukup mahal. Justru berkebalikan dengan yang beranggapan zerowaste itu ribet dan mahal. Apa yang saya alami beberapa tahun belakangan membuktikan bahwa saya jadi lebih hemat. Meskipun tidak banyak perubahan yang saya lakukan, tetapi saya yakin kalau banyak yang melakukannya pasti akan berguna. Saya sudah sekitar 4 tahun ini merubah kebiasaan menggunakan pembalut plastik menjadi pembalut kain dan 1 tahun ini beralih menggunakan sikat gigi bambu. Selain itu, dalam beberapa kesempatan saya menolak plastik dan memilih menggunakan kantong sendiri. Saya juga membawa sedotan stainless kemana-mana. Tujuannya agar saya selalu ingat bahwa jajan pun tetap harus zerowaste. Hasilnya saya jadi lebih bahagia karena mengurangi sampah dan kantong pun aman tidak jebol :)

Berdaya Bersama-sama

Saya habis menonton sebuah video menarik, yakni sebuah wawancara dengan sepasang suami istri yang begitu kritis dan cukup idealis. Mereka mencoba untuk menerapkan nilai-nilai yang mereka dapatkan saat pernah tinggal di belahan dunia utara sana. Mereka bercocok tanam alias berkebun di rumahnya sendiri. Bahkan, hasil panennya ya mereka makan sendiri. Ketik berkunjung ke tetangga atau bertemu dengan rekan mereka terbiasa bertukar oleh-oleh, saling memberikan hasil panen mereka. Nah di sini saya berpikir, betapa guyub rasanya dan hemat (tentu saja) saat kita bisa punya kebun sendiri. Lalu menciptakan budaya saling memberi. Indah sekali. Semoga saja ya Indonesia bisa lebih fokus pada kebersamaan dan kolaborasi supaya kita tidak lupa bahwa ada budaya yang tidak hanya mementingkan untung untuk dirinya sendiri tapi untuk bersama.